CATATANKU

Terkadang sesuatu tak berjalan sesuai dengan rencana kita meski sangat menginginkannya
tetapi semakin lemah kita menggenggamnya akan semakin mudah angin menerbangkannya
walaupun hari ini kau mengukir luka d’hatiku, aku akan tetap mencintai mu seperti aku mencintai mu kemarin
Mungkin hanya sebatas mimpi. Tapi, aku tak ingin terbangun dari mimpi itu. Mimpi bahagia bersama denganmu.
Terkadang disayangkan itu tidak bisa dipaksakan, bila aku nyaman sama kamu tapi kamu nyaman sama orang lain
Aku disini hanya bisa berharap apa yang terbaik buat kamu. Maaf aku hanya bisa sebatas ini.
Aku butuh dunia, dan kau sebagai pendamping ketika ku rasakan galau, Aku butuh cinta, tapi kamu gx pernah mengertikan aku
Jangan pernah melepaskan seseorg yg kita sayang, karna kita bukannya melepaskan beban namun timbulnya penyesalan
Setiap manusia memiliki kebahagiaan masing-masing. Jadi mohon, untuk tidak mencuri kebahagiaan org lain.
Kadang aku terlalu bodoh untuk jatuh. Tetapi, terlalu naif untuk menjauh.
Cinta itu lebih seperti pedang. Jika kamu tak pandai dalam menggunakannya, maka dia akan menusukmu.
Mereka bisa bilang aku ini bodoh. Tapi, inilah aku. Dengan perasaanku.
Memang hidup terkadang terasa membosankan. Terkadang masa dimana kita bisa bahagia, bisa hilang begitu saja.
Hentikan semua kebohonganmu. Aku tak mau hanya menjadi bahan permainanmu.
Aku memilih untuk berpisah dr mu. Karna, kamu bukanlah org yang bisa menerima kekuranganku.
Terkadang aku merasa menyerah. Tapi terkadang, aku harus berjuang.
Berteman itu sewajarnya. Jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh. Jadi kalo ada masalah, biasa aja.
Menanti cinta darimu, sama kayak ngukur jalanan. Seakan tak berujung, namun kau tak kunjung mengerti dan membalasnya.
Semua pengorbanan yang ku lakukan selamaa ini hanya untuk kamu, tapi kau nggak pernah mengertikan dan perdulikan aku
Dengar. Aku ingin mempertahankan hubungan ini. Tapi, kamu seperti tak menghiraukanku lagi.
Aku sangat menginginkan untuk mencintaimu, tapi kamu tenggelamkan perasaan hatiku dan tak tau arah tuk kembali
Hubungan akan berlangsung lama dan bahagia. Jika mereka tetap terbuka dan memberi perhatian.
Aku berharap aku yang harus pergi lebih dulu, karena aku tidak ingin tahu sakitnya hidup tanpa dirimu

Gadis Kecil Menyebalkan

Sebagai anak tentara dan pebisnis aku tumbuh di lingkungan yang kurang kasih sayang. Di usiaku yang belum genap 5 tahun aku sering membuat ulah yang kadang membuat jengkel ayah dan ibuku.
Pernah suatu waktu aku membuat ibuku sangat marah dan menghukumku di kamar mandi. Ketika itu adikku yang belum genap satu bulan aku ganggu, aku cubit, aku goyang-goyangkan tempat tidurnya sampai ia menangis sangat keras. Kebetulan waktu itu aku sedang menemani adikku di kamar. Ibu yang di dapur membantu bibi memasak. Ketika adik menangis ibu melihat ke kamar dan menenangkan adik yang menangis. Beberapa saat kemudian adik sudah diam dari menangisnya. Ibu kembali lagi ke dapur dan adik ditinggal di kamar bersamaku.
Setelah memastikan keadaan aman dan ibu tidak melihat, aku kembali mencubit dan memukul adik sampai menangis. Ibu kembali ke kamar dan tidak menaruh kecurigaan sedikitpun kepadaku. Adik kembali ditenangkan oleh ibu. Adik sudah tertidur lagi dengan tenang dan ibu kembali lagi ke dapur. Aku kembali mencubit dan memukul adikku.
Kejadian itu berulang sampai lima kali baru ibu menaruh curiga padaku dan beliau mengintip dibalik pintu saat aku mau melakukan aksiku yang keenam. Ibu memergokiku saat aku memukul adik. Ibu marah besar padaku. Aku kemudian dihukum dalam kamar mandi yang begitu dingin sampai aku tak kuat menahan dingin dan berteriak-teriak minta tolong.
Aku melakukan perbuatan itu karena aku merasa cemburu atas kehadiran adikku. Aku merasa perhatian ibu sudah hilang dariku. Ibu sangat perhatian pada adikku. Aku merasa sudah tidak diperhatikan ibu lagi. Aku ingin mencari perhatian ibu. Dalam menjalani hukuman di kamar mandi selain aku menangis aku merasa menang karna telah mendapat perhatian dari ibu.
Suatu saat aku mulai merasa tidak diperhatikan ibuku lagi. Aku mulai membuat ulah membunyikan radio dengan sangat keras padahal saat itu adikku sedang tidur siang.Bisa dibayangkan betapa hebatnya reksi ibu saat itu kan? Aku membayangkan ibu akan memarahi dan menghukumku lagi. Ternyata kejadiannya berbeda, justru ibu mendiamkanku dan lebih menggendong adik berjalan-jalan menikmati suasana siang itu yang memang sangat sejuk, tidak panas dan tidak hujan pula.
Aku semakin jengkel dan merasa usahaku untuk mencari perhatian ibu gagal. Aku bersedih dan merenung di kamar. Setelah adik tertidur lagi dan ibu melihat aku sudah tidak di ruang tamu. Ibu menidurkan adik di kamarnya dan segera masuk ke kamarku. Dipeluk erat tubuhku, dielus rambutku sambil dinasehati dengan kata-kata lembut yang cukup menyentuh hatiku. Ibu berkata  “Kakak yang baik hati dan cerdas akan melindungi dan menyayangi adiknya”. Kata-kata itu meluluhkan hatiku yang begitu cemburu pada adikku. Mulai saat itu aku berhenti menjadi gadis kecil yang menyebalkan.

SANG PEMBLAJAR TERASINGKAN

Sanggar Seni “ Pangudi Laras” merupakan sanggar seni yang berbeda dengan sanggar seni pada umumnya. Di sanggar seni ini setiap calon pemeran utama harus mampu memberikan tema cerita yang akan dibawakan dalam sebuah pementasan dan mampu mempertahankan ide tersebut sebagai salah satu syarat untuk menjadi pemeran utama. Seperti biasa sebulan sebelum ditentukan siapa yang akan menjadi pemeran utama setiap santri / siswa dari sanggar tersebut untuk memberikan ide cerita yang akan ditampilkan. Dalam kesempatan kali ini terdapat dua ide cerita yang sangat menarik yang disodorkan oleh dua karakter manusia yang sangat menonjol perbedaannya. Mereka adalah Panji dan Laras. Panji merupakan seorang lelaki yang berperawakan kurus, berpolapikir dewasa, religius, berpandangan jauh ke depan, supel, gaya tutur bahasa yang teratur daan pelan, bersikap dingin terhadap hal-hal yang kurang penting, kritis, bertanggungjawab dan meski tidak terlalu pandai berakting tetapi dia memliki keinginan belajar yang kuat. Namun dia juga memiliki beberapa kelemahan seperti  kurang percaya diri, gagap bicara di depan,cuek terhadap penampilan dan tak pernah tepat waktu. Sedang Laras adalah wanita ambisius yang  cukup disegani diantara wanita-wanita lainnya, selain anak orang kaya dia juga cerdas dan kemampuan aktingnya tak diragukan lagi. Akan tetapi bukan berarti dia manusia sempurna yang tak memiliki kelemahan. Walau dia wanita perkasa yang bisa tonjok sana tonjok sini dia adalah wanita yang cengang, mudah mengeluh, egois, arogan, pandai bersilat lidah, keras kepala dan kurang bersahabat dengan teman-teman sanggar lainnya.
Sanggar seni ini adalah perpaduan seni tradisional dan seni modern yang menghargai setiap ide cerita yang ada, makanya jangan aneh jika ceritanya bukan hanya cerita-cerita rakyat seperti sanggar-sanggar yang lain. Calon cerita kali ini yang berhasil memikat para pelatih yaitu cerita yang disodorkan oleh Panji dengan judul “ Panji Bukan Anak Berandalan “ dan ide Laras dengan judul  “Laras Wanita Hebat”. Meski judulnya tidak terlalu berkesan akan tetapi jalan cerita yang disampaikan keduanya sangat menarik untuk disaksikan. Panji Bukan Anak Berandalan mengisahkan tentang seorang lelaki yang selama ini dianggap sebagai seorang berandalan, seorang sampah masyarakat, lelaki yang tak berguna akan tetapi ketika desa tempat tinggal orang-orang yang mengolok-olok  Panji terkena musibah besar hinggga tak ada seorangpun yang mampu menyelamatkan, Panji datang sebagai dewa penyelamat dan membuktikan bahwa dia bukan seorang berandalan. Laras Wanita Hebat juga mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita yang hidup dalam hinaan masyarakat sekitar dan harus menghidupi anak semata wayangnya akibat dari perbuatan lelaki bejat yang tidak bertanggungjawab. Kemudian ternyata Laras berhasil menciptakan sebuah industri yang justru menjadi mata pencaharian masyarakat.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dan argumentasi Laras yang lebih kuat maka Laraslah yang terpilih menjadi pemeran utama. Sebagai wanita ambisius dia sangat senang sekali karena terpilih sebagai pemeran utama. Panji sebagai rival yang baik dan sesuai pribadinya yang supel dengan rela hati ia memberikan ucapan selamat kepada Laras sebagai pemeran utama. Sebagai penggagas cerita secara otomatis Laras akan memilih siapa saja yang akan ikut berperan bersamanya. Setelah berkonsultasi dengan pihak pelatih akhirnya Laras menentukan para pemerannya. Dari sekian pemeran Panji dipilih menjadi salah satu pemeran Protagonis, pembantu pemeran utama.
Cerita di atas adalah cerita yang belum selesai karena Ku sadari bahwa kelemahan saya adalah membuat keputsan final atau menuntaskan sebuah pekerjaan ( dalam berbagai bidang ) dengan baik, oleh karena itu saya sangat membutuhkan orang yang bisa mensupport dan menyelesaikan ide-ide saya. Besar harapan saya anda sepemikiran dengan saya dan mampu menuntaskan ide-ide saya.
Atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih…..
CINTA ATAU SAHABAT


Malam ini merupakan malam yang penuh dilema dalam hidupku. Bagaimana tidak menjadi sebuah dilema, hari ini tadi Imran lelaki kampus sebelah yang sholeh, tampan, baik hati, mandiri. Lelaki yang aku dambakan sejak pertemuanku dan Rachael sahabat karibku beberapa bulan lalu di sebuah kegiatan antarmahasiswa di Kota Tangerang menyatakan cintanya kepadaku, tetapi disisi lain Rachael sahabat dekatku juga sangat mencintai Imran. Begitupula Imran sesungguhnya juga mencintai Rachael terlihat lewat perhatian yang Imran berikan pada Rachael. Sesungguhnya pernyataan cinta yang diutarakan Imran tadi sore ia meminta pendapat kepadaku tentang apa yang tengah ia rasakan. Ini adalah ungkapan yang disampaikan Imran kepadaku :“ Intan, sesungguhnya aku telah jatuh cinta padamu, akan tetapi akupun tak bisa membohongi hati ini bahwa aku juga mencintai Rachael sahabat dekatmu, bagaimana menurutmu?”. Mendengar kalimat itu aku merasa bahagia karena cintaku tak bertepuk sebelah tangan akan tetapi aku merasa sangat bimbang mengapa cintaku harus diduakan. Hatiku penuh tanya dan gelisah, bagaimana aku mampu memberikan pendapat yang terbaik buat Imran sedang perasaanku sendiri sangat mencintainya. Apa aku harus konsultasi dengan Rachael tentang masalah ini. Perasaan gundah dan gelisah menyelimuti malamku. Ingin rasanya kupejamkan mata ini, akan tetapi lintasan bayangan wajah Imran dan Rachael terus membayang-bayangiku.  
Ku lihat waktu hampir menunjukkan pukul 11 malam, namun mata belum bisa terpejam. Ku coba mengambil buku untuk kubaca dan memberikan rasa kantuk, namun gagal juga usahaku ini. Ku ambil HP untuk mencoba menghubungi Rachael dan berkonsultasi masalah ini. Namun setelah kuambil HP dan ingin mencari nomor kontak Rachael terlihat waktu di layar HP menunjukkan pukul 23.54 akhirnya akupun tak jadi menghubungi  Rachael karena pertimbangan waktu. Ku tak beranjak dari tempat tidurku sambil merenungkan hari-hariku bersama dengan Rachael. Susah senang yang telah kami lewati berdua, hingga pada suatu hari kami terjebak dalam sebuah kemacetan dan kehujanan pasca berwisata dari Taman Satwa Ragunan Jakarta. Pada saat itu ku lihat waktu di jam tangan sudah  jam 8 malam namun kami berdua masih berada di Pondok Labu sedang teman-teman yang lain sudah duluan. Kami ketinggalan karena ban sepeda motor kami mengalami kebocoran sekitar jam 5 sore, setengah jam kemudian usai ban motor kami telah ditambal tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat. Handphone kami berdua kebetulan semuanya low battery  sehingga  kami kesulitan menghubungi teman-teman yang lain. Ingin ke wartel tak ada satupun nomor teman-teman yang kami ingat,setelah kurang lebih 3 jam kami menunggu ternyata hujan tak reda-reda, akhirnya kami putuskan untuk pulang  pasrah ditengah guyuran hujan. Malam itu aku sudah benar-benar ketakutan untuk pulang ke rumah karena paling tidak membutuhkan waktu sekitar satu jam lagi untuk sampai di rumah dalam kondisi cuaca yang normal, sedang malam itu kondisi hujan yang sangat lebat dan macet karena banyak pohon yang tumbang , pasti lebih lambat dari waktu biasa dan sudah barang tentu aku tak akan dibukakan pintu. Sifat bapak disiplin dan rasa kasih sayang ibu yang takkan membiarkan anaknya menjadi anak yang terkesan nakal dan itu menjadi alasan mengapa bisa jadi aku tidak dibukakan pintu. Dengan ketenangan dan kedewasaan Rachael,  dia terus menenangkan diriku yang sedang gundah. Aku seharusnya malu dengan Rachael, dia saja tak mengeluh meski rumahnya lebih jauh dari rumahku.  Rachael rumahnya di Cadas sedang aku di Kebon Nanas, itu artinya dia akan lebih malam sampai d rumahnya.
Tak terasa dengan asyiknya cerita dan menikmati guyuran hujan akhirnya kami sampai di rumah aku. Dengan rasa ragu kuucapkan salam pada kedua orangtuaku. Beberapa kali kuucapkan salam tidak dibukakan pintu oleh bapak maupun ibu. Kemudian Rachael mengucapakan salam karena dia memiliki suara yang lebih keras daripada aku maka dengan hanya dua kali mengucap salam terdengar suara “ walaikumsalam,sapa ya?” suara bapak dari dalam, aku menjawab : “ Intan pak”. Kemudian bapak bertanya lagi : “Intan?”  Walau rasa sesungguhnya sangat  deg-degan aku mencoba untuk menenangkan diri. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka, dengan rasa yang sangat mendebarkan ku terus menatap arah pintu. Seorang lelaki berjenggok dengan wajah yang cukup menyeramkan keluar dari dalam rumah, beliaulah bapak aku. Seperti dugaanku pasti bapak akan marah besar karena aku pulang terlalu malam tidak meleset, bukan sambutan hangat yang kami terima, tetapi luapan amarah bapak yang harus kami terima ”ini sudah jam berapa? Pantaskah wanita pulang ke rumah di atas jam 9 tanpa kabar berita? Ini sudah hampir jam sepuluh malam, untuk apa kalian pulang? kondisi cuaca hujan, apa kalian tidak memikirkan bagaimana gelisahnya ibumu di rumah? kalian itu wanita” kata bapak dengan penuh emosi sambil memarahiku, ku hanya bisa terdiam mendengarkan omelan bapak,  karena aku yang selama ini dikenal dengan anak yang penurut, patuh pada orangtua, tidak pernah pulang malam tak ingin menjadi anak yang durhaka, aku menganggap wajar orang tua  mengkhawatirkan anaknya. Dengan tenang dan kedewasaannya Rachael memberikan penjelasan.  “ Maaf pak sebelumnya, bukannya saya ingin ikut campur dan lancang, saya hanya ingin memberikan penjelasan saja mengapa kami bisa terlambat sampai rumah. Begini pak, seharusnya maghrib kami sudah sampai rumah. Akan tetapi halangan menimpa kami, di tengah kemacetan lalulintas Jakarta ban kami mengalami kebocoran. Teman-teman yang lain sudah duluan meninggalkan kami. HP kami semua low battery membuat kami mengalami kesulitan menghubungi siapapun termasuk bapak karena Intan juga tidak hafal nomor HP bapak. Setengah jam kami menambal ban tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, kami putuskan untuk berteduh terlebih dahulu di daerah Pondok Labu karena kami ketakutan dengan kondisi hujan yang sangat lebat. Setelah kurang lebih 3 jam kami menunggu hujan tak kunjung reda dan waktu telah menunjukkan jam 8 lebih kami putuskan untuk pulang saja dan ternyata di tengah jalan masih macet karena banyak pohon yang tumbang dan jalanan banjir. Begitulah sebabnya kami mengalami keterlambatan” ucap Rachael. Bapak mengangguk-ngangguk dan tak sadar beliau meneteskan airmata mendengarkan penjelasan Rachael.
Berkat jasa Rachael bapak bisa menerima dan akupun bisa lebih tenang, sekarang giliran Rachael yang mungkin bisa jadi juga diomeli orangtuanya karena sudah jam 10 malam belum memberi kabar pada orangtuanya, tanpa pikir panjang  Rachael mengecash HP  dan menghidupkannya untuk segera menghubungi orangtuanya yang mungkin sudah gelisah juga karena orangtua Rachael juga tak jauh berbeda sifatnya dengan orangtuaku yang sangat perhatian pada anak-anaknya. Untuk membalas jasa Rachael aku meminta bapak untuk menyampaikan hal yang sesungguhnya sekaligus mohon izin agar Rachael menginap di rumah kami saja karena waktu sudah lebih dari jam 10 malam takut terjadi apa-apa di jalan dan akhirnya orangtua Rachael memahami atas penjelasan bapak. Rachael pun tidur di rumah kami dan menggunakan baju ganti aku meski terlalu kecil untuknya.
Sebenarnya jasa Rachael tidak sampai di situ saja, ketika beberapa bulan lalu aku sedang putus cinta dengan Arya dan larut dalam kesedihan Rachaellah yang selalu memberiku motivasi dan terus menenangkanku. Masih teringat perkataannya Rachael yang mungkin tak akan ku lupa : “ wanita yang baik-baik itu akan mendapatkan lelaki yang baik-baik, tapi jangan hanya kita berbuat baik untuk mendapatkan lelaki yang baik, akan tetapi berbuatlah baik niscaya akan banyak lelaki baik yang akan menghampirimu.” Karena kata-kata itu aku berusaha untuk menjadi wanita yang baik-baik, seorang wanita sholehah. Dan sampai akhirnya sifat dan perilaku kami hampir sama meskipun kami bukan anak kembar. Ingat perkataan Rachael itu menyadarkanku dari lamunan, dan seolah membenarkan bahwa wanita baik-baik akan memperoleh lelaki yang baik, karena sosok Imran memang luar biasa, dia anak sholeh, berbakti pada orangtua, hidup mandiri, tutur bahasanya lembut dan menyejukkan tapi mengapa kami terjebak dalam cinta segitiga apa karena aku memiliki kemiripan sifat dengan Rachael.
Kulihat jam telah menunjukkan jam 3 pagi tapi aku belum juga bisa tidur, segera ku beranjak dari tempat tidur untuk mengambil air wudhu dan melakukan sholat malam, curhat pada Allah atas segala permasalahanku ini. Setelah aku melakukan sholat dan berdoa memohon petunjuk pada Allah, kusandarkan kepalaku ditembok kamar tempat aku sholat, tanpa terasa kutertidur dan memimpikan Rachael tersenyum manis di tempat yang asing yang belum pernah kami lihat namun tampak indah memandangiku dan ada Imran juga tersenyum lebar sambil memanggil kami berdua, kami mendekat dan Imranpun berkata “persahabatan tak boleh diputuskan”. Belum selesai aku bermimpi tiba-tiba adzan shubuh berkumandang dan membangunkanku dari mimpi.
Keesokan harinya aku bertemu Rachael dan kuceritakan semua apa yang telah terjadi  termasuk perkataan Imran yang mengucapkan kata cintanya padaku dan permohonan pertimbangan pendapat Imran padaku atas cinta segitiga kami. Di sela-sela waktu istirahat kami mencari tempat yang nyaman untuk sharing, akhirnya kami menemukan tempat di bawah pohon rindang di samping kampus yang jauh dari keramaian. Di sini aku ceritakan semua kejadian yang aku alami dari kemarin sampai hari ini. Aku sangka Rachael akan marah karena lelaki yang dicintainya mencintaiku juga. Tapi ternyata dugaanku salah, ternyata dia justru tersenyum manis sambil berkata : “mencintai dan dicintai itu hak manusia, siapapun boleh mencintai dan dicintai termasuk kamu ( Intan ) dengan Imran. Terima saja dia untuk mendampingimu dengan syarat sesuai ketentuan agama kita, tuntunan Rasulullah SAW”. Sambil meneteskan airmata aku sangat terharu mendengarkan ucapan Rachael, kutatap mata Rachael dan kucoba rasakan yang ia rasakan, walau dia berkata seperti itu dan mengikhlaskan Imran untukku, tapi sorot mata tidak bisa dibohongi. Rasa kecewa yang tersirat di wajahnya tidak bisa dia tutupi, akupun kembali berpikir bagaimanapun juga aku wanita dan bisa merasakan apa yang dirasakan Rachael. Di sini  Akupun tak langsung mengiyakan perkataan Rachael, namun kembali aku mengutarakan tentang mimpiku tadi yang lupa aku sampaikan. Setelah menyampaikan mimpiku pada Rachael aku mencoba untuk menganalisis mimpi itu: “Rachael mungkin kau bisa mengalah untukku secara lahir, tapi aku sebagai wanita dan sahabatmu tak mau bersenang-senang di atas penderitaanmu, mimpiku tadi pagi seolah mengisyaratkan bahwa jangan sampai persahabatan kita putus hanya karena cinta. Cinta bisa dicari, sahabat sulit untuk mencari, cinta tak harus memiliki dan kuyakin selama kita berbuat baik, InsyaAllah kelak di surga kita akan dipertemukan bertiga seperti dalam mimpiku tadi”  celotehku pada Rachael. Di sini giliran Rachael tidak sepakat, Rachael menginginkan salah satu dari kita mendapatkan Imran karena sayang kalau Imran jatuh dipelukan wanita yang bukan dambaannya dan justru perasaan kecewa yang terjadi. Rasa bersalah pasti akan menghinggapi kami suatu saat nanti.
Di tengah kebimbangan hati kami, melintaslah Imran di depan kami. Awalnya kami tidak tahu kalau Imran tengah melintas di depan kalau dia tidak menyapa kami karena memang kami tidak memperhatikan apa yang ada di sekiar kami.
Seusai  pulang kuliah kami berdua langsung menemui Imran yang kebetulan kampusnya tidak jauh dari kampus kami. Setelah melakukan pencarian kami bertemu dengan Imran dan dengan wajah yang nampak kaget karena kami datang berdua Imran menerima kami. Kami utarakan keputusan kami untuk menjadikan Imran sebagai sahabat dan saudara kami. Imranpun menyetujui kesepakatan kami dan  tampak lega juga wajahnya…..

CINTA TAK SAMPAI

Aku mempunyai dua orang sahabat wanita yang keduanya memiliki sifat yang berbeda. Mereka adalah Riza dan Shinta. Riza merupakan wanita manis yang ramah, ringan tangan, mudah bergaul sifatnya baik, berjilbab, empati dan sungguh dia akan menjadi wanita yang sempurna apabila mampu menjadi wanita yang amanah dalam menyimpan rahasia karena selama ini ia sangat kesulitan dalam menjaga rahasia ini. Sementara Shinta adalah wanita yang berbadan besar seperti lelaki (tomboy) keras kepala, egois, namun mempunyai kesetiaan yang luar biasa terhadap orang-orang yang dicintainya. Kami bertiga sudah berteman lama mulai dari kecil hingga saat ini, kami pun sekolah dan kuliah ditempat yang sama. Aku mengetahui bagaimana karakter Riza maupun Shinta, walaupun keduanya memiliki karakter yang berbeda tapi bagaimanapun juga Riza dan Shinta tetap sahabatku.
Pada suatu hari aku sedang jalan bersama kedua sahabatku kesalah satu tempat dimana kita berkumpul, bercanda, tertawa sampai tidak kenal waktu dan tempat itu adalah pantai, pantai merupakan tempat yang kita sukai karena pantai merupakan tempat yang indah jika dipandang oleh kedua mata kita. Setelah kami bermain dipantai, kamipun langsung pulang kerumah masing – masing sambil bercanda, tapi setelah kita bertiga sampai di depan rumah Riza, kitapun terkejut dengan apa yang kita lihat, bahwa orang yang Riza sayangi ( mama ) telah meniggal dunia karena terkena penyakit kanker rahim, Rizapun menangis tanpa henti sedangkan aku dan Shinta juga ikut menangis karena merasa kehilangan sosok mamanya Riza. Setelah pemakaman ibunda Riza, aku dan Shinta beserta keluarga kumpul di rumah Riza  tapi sayangnya Riza tidak keluar kamar, melainkan Riza hanya bisa menangis di dalam kamar yang ia kunci. Sementara aku, Shinta dan sekeluarga pun mengerti dengan kesedihan yang dialami  Riza, karena ayahnya meninggal sudah 10 tahun yang lalu dan kini Riza telah ditinggalkan ibunda tercinta untuk menghadap sang Illahi, saat ini Riza hidup sebatang kara  tidak memiliki ayah dan ibu. Tiga bulan setelah meninggalnya ibunya, ia menjadi wanita yang tidak bisa menjaga rahasianya ataupun rahasia teman – temannya, Riza selalu membongkar rahasia aku, bahwa aku dulunya adalah seseorang yang tidak bisa setia dengan wanita, Riza membongkar semua rahasia aku di hadapan Shinta. Sungguh hati ini ingin marah kepadanya tapi aku tidak berani karena aku menyayanginya, sementara Shinta yang mendengar perkataan dari Riza, Shinta menganggap bahwa apa yang dikatakan Riza itu semua tidak berarti untuk Shinta, karena Shinta mengerti bagaimana sifat Riza yang sesungguhnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun semua kita jalani bersama, entah mengapa selama aku berteman lama dengan Riza dan Shinta, perasaan dalam diriku sedikit demi sedikit menjadi banyak, seperti perasaan yang begitu dalam kepada Riza maupun Shinta. Akupun bingung sebenarnya bagaimana harus mengungkapkan perasaanku terhadap Riza dan Shinta bahwa aku sangat mengagumi mereka, tapi jika aku mengatakan kepada mereka mungkin mereka akan terkejut mendengarnya dan mungkinkah persahabatan kita akan hancur jika aku mengatakannya, karena dahulu kita pernah berjanji bahwa aku, Riza dan Shinta tidak boleh jatuh cinta di dalam persahabatan kita. Aku hanya bisa mencurahkan perasaanku kepada Riza dan Shinta melalui selembar kertas.
Aku sudah berumur 28 tahun dan sudah saatnya aku mencari wanita idaman yang akan menjadi istriku nanti, Riza dan Shinta berumur 26 tahun tapi apakah mereka ingin untuk menjadi bagian dari hidupku nanti. Sedangkan aku sudah berteman lama denganmu Riza dan Shinta, kalian memang mamiliki karakter yang berbeda. Seperti Riza merupakan wanita manis yang ramah, ringan tangan, mudah bergaul sifatnya baik, berjilbab, empati. Aku sesungguhnya mendambakan dirimu untuk menjadi istriku tetapi sayangnya Riza tidak bisa menjaga rahasianya baik itu rahasia pribadi maupun rahasia orang lain, tetapi jika aku menginginkan Riza untuk menjadi istriku, aku tidak yakin akan bertahan lama. Sedangkan Shinta mempunyai karakter wanita yang berbadan besar seperti lelaki (tomboy) keras kepala, egois, namun mempunyai kesetiaan yang luar biasa terhadap orang-orang yang dicintainya. Sejujurnya aku mencintai Shinta tapi ada sesuatu yang tidak aku sukai darinya seperti sifat keegoisan, tomboy dan keras kepala, ternyata memang benar ya bahwa pepatah berbunyi bahwa manusia tidak ada yang sempuna kecuali Allah SWT. Lantas siapa kah yang akan menjadi istriku nanti ya Allah?.
Setelah aku menulis sesuatu di selembar kertas putih yang bersih  kemudian aku menyimpannya di salah satu tempat dimana Riza dan Shinta tidak akan mengetahuinya, tempat itu adalah dilaci samping tempat tidurku. Seminggu setelah aku menulis perasaan ku di sebuah lembar kertas, aku mendengar berita dari Shinta bahwa Riza sudah pergi ke Amerika, ia tinggal disana bersama tante serta omnya, Riza pergi tidak pamit dengan aku dan Shinta. Riza hanya menulis disebuah surat
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Maafkan aku, aku pergi tidak bilang kepada kalian, aku disini tidak memiliki saudara lagi, ayah dan ibuku sudah pergi meninggalkanku selamanya. Sejujurnya aku tidak ingin pergi dari persahabatan kita, persahabatan yang sudah kita bina sewaktu kita kecil sampai sekarang, mungkin ini sudah takdir bahwa aku harus pergi dan meninggalkan kalian disini, aku memang sahabat yang kejam yang meninggalkan sahabat – sahabatku sendiri, tapi aku janji kepada kalian aku tidak akan pernah melupakan kalian sebagai sahabat terbaikku, kalian tidak usah mengkhawatirkan aku, karena aku disana tinggal besama tante dan omku.
Wassalam
Salam sayang sahabatku
Riza
Aku dan Shinta sangat sedih membaca surat itu, kenapa ia secepat itu pergi meninggalkan kita, wanita yang ku dambakan kini sudah pergi sekarang. Dua minggu setelah kepergian Riza di saat aku datang kerumah Shinta ingin mengatakan yang sebenarnya mengenai perasaanku tapi tiba – tiba datang seseorang laki – laki yang mengaku sebagai calon suami Shinta, Sungguh hati ini ingin menangis mendengar perkataan dari sang laki – laki tersebut. Lalu Shinta memberikan penjelasan “ apa yang ia katakan benar bahwa dia calon suami aku, sebentar lagi kami akan menikah”. Mendengar perkataan Shinta sungguh tidak kuat hati ini menahannya, akhirnya akupun pamitan untuk pulang ke rumah, di dalam perjalanan air mata aku turun begitu deras seperi air yang mengalir dengan deras dan tidak kuat menahannya, mungkin ini memang nasibku, mencintai seseorang tapi tidak dicintai seseorang, apa ini yang dikatakan bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan, perasaan yang begitu dalam kepada Riza dan Shinta hanya aku seorang yang mengetahui, biarlah kisah dan cinta ini hanya aku yang tahu dan merasakannya. Akhirnya pernikahan Shinta telah dimulai, aku datang ke hari pernikahan Shinta, inginku bersalaman dengan Shinta tapi sungguh aku tidak kuat  menahan perih rasanya hati ini, melihat seseorang yang aku sayang dan cintai berdampingan di bangku pelaminan dengan orang lain. Mungkin aku harus mengikhlaskan Shinta dengan orang lain walaupun memang sakit hati ini rasanya tapi aku harus mendo’akannya semoga ia akan bahagia bersamanya amin, dan aku harus pergi meninggalkan semua perasaanku tehadap wanita yang aku damba yaitu Riza dan wanita yang aku cintai yaitu Shinta.

Saat Terakhir Aku Bersamamu

Gelap malam mulai datang. Bayangan sang surya mulai menghilang. Ku terdiam di pinggir jalan ditemani titik-titik hujan yang menari-nari di atas hamparan bumi yang sepanjang hari tersengat sinar raja siang. Perhiasan malam berkedip-kedip menampakkan cahaya yang menambah keindahan malam. Ku hanya terdiam beku tanpa suara meski ada dirimu yang ada bersamaku. Namun tak ada cakap diantara kita. Hanya terdiam dan terdiam, terbisu tanpa suara. Sebenarnya ingin sekali ku mengajakmu berbicara sekedar mencairkan suasana, tapi apa daya aku seorang wanita, gengsiku lebih besar daripada niatku mencairkan suasana. Tak kusangka yang begitu menjaga diri mencoba mendekat padaku,kurasa kau ingin mencoba mencairkan suasana.  Tersengat aroma tubuhmu yang begitu harumnya sampai aku ingin muntah. Namun aku tak kuasa mengatakannya padamu. Hanya kupendam dan ku pendam aroma itu. Kau mulai mengajakku berbicara walau terbata dalam berkata. Ku mencoba melupakan aroma khas tubuhmu dan memperhatikanmu, sungguh aku geli melihat ekspesimu yang begitu tegang dan kaku. Sambil kumainkan jari-jariku di tombol HP baruku, ku ajak engkau rileks dengan posisi kita. Meski aku tahu, ini sungguh berat bagimu, terjebak dalam kucuran air hujan, berteduh di tepi jalan tanpa seorangpun selain lalu lalang kendaraan dan kita. Untung saja sayup adzan maghrib segera terdengar meski rintik hujan masih menari-nari di atas bumi. Kau mengajakku ke sebuah masjid yang tak jauh dari tempat kita berteduh. Ku ikuti langkahmu menuju masjid, meski aku sadar aku belum sempurna menjalankan sholat, masih sering bolong. Namun aku bahagia bisa bertemu denganmu, kau mengajarkanku tuk kembali ke Tuhanku yang telah lama kutinggal demi menuruti nafsuku.
Usai kubasahi hati dengan sholat dan untaian dzikir kepada Sang Ilahi kulangkahkan kakiku mengikutimu menyusuri indahnya perjalanan malam. Perjalanan yang mampu memijat otot-otot perutku dan mampu menguatkan hatiku karena hentakan jalanyang terkadang mengagetkanku. Gelap dan sunyi yang menemani perjalanan kita. Tersesat dan bertanya menjadi senjata dalam mencapai tujuan kita. Tak cukup sekali kita tersesat dan bertanya. Berkali-kali kita tersesat dan bertanya. Kau dan aku tak tahu  jalan yang kita tuju. Kau hanya tahu tempat akhir tujuan tanpa tahu jalan yang kita sama sekali belum menginjaknya. Hanya keyakinanmu yang begitu kuat yang mampu mengantar kita ke tujuan. Perlahan kita tapaki jalan untuk menuju rumah saudaramu. Dengan sepeda motor kita terus melangkah tanpa rasa kekhawatiran.
Ribuan langkah telah tertapaki, jalan panjang telah terlalui, terlepas dari kesesatan jalan,  trepancar rona kebahagian karena telah sampai di jalan yang sudah kau hafal yang menandakan kita akan segera sampai ke tujuan. Berseri-seri wajahmu akan segera berjumpa dengan orangtuamu yang, melepas rindu yang terbelenggu. Dan akhirnya tepat jam 19.30 kita sampi tujuan. Kita masuk rumah bersalam-salaman dan disambut dengan penuh keramahan. Akupun tak  tahu mana ibumu karena orang-orang yang di tempat itu masih muda-muda yang ku sangka itu kakakmu semua.
Setelah disambut dengan penuh keramahan, dihidangkan pelengkap penghormatan kepada sang tamu. Meski perutku sudah sesak penuh karena baru saja aku manjakan dengan berbagai makanan dalam pesta tadi sore, namun aku tak kuasa menolak apa yang ada di hadapanku. Cabe hijau cacah  yang dilumuri minyak panas dalam wajan pengorengan tersedia melengkapi hidangan di hadapanku. Meski terasa aneh bagiku dan terbayang betapa pedasnya makanan itu. Namun setelah kucicip satu sendok masuk dalam mulutku, ternyata betapa nikmatnya makanan itu . Dan akhirnya satu piringpun tersantap habis olehku.
Waktu semakin larut, usai menikmati cabe goreng yang terhidang, kita berpamitan untuk pulang. Sampai saat itupun aku belum juga tahu mana ibumu. Di tengah perjalanan pulang banyak cerita yang saling kita lemparkan. Terasa indah malam itu dan ini pertama kali aku bisa bicara banyak denganmu. Ku bertanya yang mana ibumu dan ternyata ibumu itu adalah orang tadi aku kira kakakmu, sungguh aku baru tahu bahwa ibumu itu masih semuda itu. Ku antar kau menuju tempat tinggalmu, terasa berat mengucapkan kata pisah denganmu, ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Meski berat akupun harus segera pulang dan setelah kau mengucapkan kata terimakasih aku langsung tancap gas untuk pulang.
Setelah peristiwa malam itu, ternyata benar firasatku, aku benar-benar kehilangan dirimu.  Kau menghilang dari hidupku,aku tak tahu lagi dimana dirimu. Masih hidupkah engkau atau sudah tiadalah dirimu aku tak tahu,aku  tak bisa lagi bertemu denganmu, tak bisa lagi aku berbicara denganmu, mengobrol denganmu. Tak ada lagi seseorang tak pernah berhenti menasehatiku. Tak lagi bisa aku menghubungimu, walau hanya sekedar telepon atau sms. Tak ku sangka ternyata malam itu adalah malam perpisahan bagi kita.  Aku hanya berharap semoga engkau baik-baik saja di sini aku akan selalu berusaha menjalani nasehat-nasehatmu. Aku sangat merindukanmu. Semoga kelak kita bisa dipertemukan kembali.
Sebuah Perjalanan
 https://bramcreate.files.wordpress.com/2012/08/penyesalan1.jpg
Saya punya keyakinan bahwa semua yang kita lakukan akan membuahkan hasil sesuai dengan usaha yang kita lakukan.
kurang lebih 14 tahun yang lalu semasa saya harus menerima kenyataan kalau saya harus mengikuti paket akibat kegagalan yang kualami..aku hampir menyerah dan putus asa untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang sma. tapi karena dorongan dari orang tua maka saya terpaksa meminta untuk melanjutkan sekolah ku di luar kota, di tengah urusan yang banyak ‘dan kurangnya informasi yang saya dapatkan mengenai jadwal penerimaan siswa baru, entah mengapa saya telat untuk mendaftar, di sini saya benar2 merasa putus asa karena waktu pendaftaran sma sudah lewat tempo, namun dengan semangat dan keberanian saya mencari dan meminta bantuan, maka saya pun bisa masuk di salah satu sekolah yang masih mau menerima saya sebagai siswa baru di Man 1 Jember, dengan waktu yang sedikit, maka saya bisa masuk di sekolah baru saya tanpa melakukan tes, pertama kali saya menginjakkan kaki di sekolah ini dan hari pertama saya menjalani masa2 sekolah entah mengapa saya selalu merasa minder kepada teman2 yang bisa dibilang pintar, dibandingkan saya yang tak tahu apa2..
tapi dengan semangat dan kemauan saya untuk bisa mendapatkan ilmu sebanyak2nya maka semua hari2 ku tersa lebih baik meskipun saya masih merasa paling bodoh di kelas.
hingga pada saat setelah semester pertama, saya sangat puas atas kata2 yang diutarakan oleh wali kelas saya bahwa nilai saya lumayan diantara teman2 yang lain, hingga keesokan harinya saya dengan sangat percaya diri dan yakin menerima rapor saya, setelah perlahan saya buka lembaran pertama, lembaran kedua dan hal yang tak saya duga kalau saya ternyata ada di peringkat. ini adalah hal yang sangat membanggakan orang tuaku, dan saya juga bisa meraih peringkat 6 (hehe) di antara kurang lebih 170 siswa disekolah saya.  dan dari sinilah saya sadar bahwa saya tidak perlu minder dengan teman2 karena semua akan kita gapai sesuai usaha yang kita lakukan.
dan inilah awal semangattku untuk menjadi orang yang selalu dipercaya sampai nasa-masa kuliah…..
hingga pada akhirnya saya sampai ditempat yang tak pernah saya duga sebelumnya…..



(segini dulu secarik coretan dari sebuah kisah dari kenyataan saya)

kesalah pahaman mengakibatkan penyesalan

Gambar
gua gak pernah nyangkah hal ini akan terjadi..
pada hari jumat,17 agustus 2012, saya hendak berada dirumah untuk istiraha, lo tahu kan lagi puasa, makanya gak jalan-jalan,nah jam 10.00 teman gua dateng (sekampung ) yang dari makassar ke mash dan kita nonton bareng sampe sore, tapi entah kenapa sore harinya dia mau minjam motor yang ada di mash tapi saya bilang kuncinya gak ada,maklum motor titipan temen yang lgi mudik, nah setelah temen saya minta motor saya baru lihat sms yang dikirim teman saya yang mudik itu kalo kunci motornya ada dilaci dan dia minjemin saya gitu.
       nah, pas saya priksa lacinya ternyata kuncinya beneran ada, lalu sya pinjemin temen saya kunci motor tapi dia uda pasang muka gak enak ma saya soalnya tadi saya uda bilang gak ada kuncinya,,
       saya kemudian jalan-jalan sampil pake sepeda’ pas gua liat dia uda mau ke mashnya jalan kaki, dari jauh gua teriak brojangan balik dulu kunci motor ada dilaci tuh ambil aja.
temen: bro gua pinjam dulu motornya yah ntar abis magrib saya kesini
gua: oh ya udah(sambil masuk kekamar) gua kira dia mau minjam motor kalo dia balik kenini lagi abis magrib tapi ternyata dia bawa motornya, kemudian saya kirim sms ke dia “weh bro maksud gua lo ambil motornya abis magrib bukan nanti magrib baru dibalikin soalnya saya juga belum make buat beli makan untuk buka,,,aduh paaayaaaah (sebenarnya sih gua cumank bercanda tapi entah mengapa…).
  n sebenarnya gua bermaksud mau nitip juga makanan kalo dia mau balik setelah itu gua sms lagi “bro pake aja dulu motornya cos temen saya dateng nih pengen ajak saya beli makanan buat buka ntag magrib lo kasi samuel aja kuncinya!
tiba tiba dai ngejawa uda saya balikin kuncinya bialang aja kalo gak mau minjemin lagian gua gak butuh,,,
nah gua bingung kan???
dia kemudian dateng ke mash gua jelasin tapi dianya gak mau dengerin penjelasan saya gua jelasin ini cuman salah paham maksud saya bukan gitu..tapi tetep dia gak mau dengerin akau ya udah gua minta maaf sebesar-besarnya kalo emank gua uda salah sama sama lo, gua ngerti gua yang salah ,gua gak bermaksud seperti itu…
   sumpah saya sangat menyesal atas kejadian itu saya kehilangan temen hanya gara-gara masalah sepele, dan kesalahpahaman, gua bener-bener  nyesel kenapa saya harus punya hp dan kenapa pada juaga saya punya pulsa pada hari itu, andaikan saya gak punya pulsa dan gak punya hp pasti ini semuA tak akan terjadi…
jika gua salah mohon lo bisa maafin gua
CUMANK KATA MAAF YANG BISA SAYA UTARAKAN, DAN SAYA JUAGA MINTA MAAF KALO SMS ITU MEMBUAT LO TERSINGGUNG TAPI LO HARUS TAHU SATU HAL, KALO SAYA TIDAK BERMAKSUD SEPERTI YANG LO KIRA SEMUA INI HANYA SALAH PAHAM.
GUA GAK MAU ADA PERMUSUHAN, DAN SAYA TIDAK MAU KAMU BERUBAH KARENA MASALAH INI.

Terimah Kasih Kawan

Hari ini adalah hari raya Idul Fitri, ini adalah hari pertamaku merayakan hari kemenangan tidak bersama dengan orang tuaku..
tapi gua sangat berterima kasih karena saya mempunyai temen yang baik dan pengen bantuin gua disaat saat seperti ini, padahal dia sendiri lagi sibuk..
sebuah kisah yang sangat lucu terjadi dihari ini, sehabis sholat IED di masjid Al-Muthowwir gua balik kemash dan kemudian gua pergi nyari pulsa buat ngasih ucapan selamat buat temen-temen, lagian hari ini gua bener-bener kehabisan pulsa..
Ditengah perjalanan gua kepikiran untuk pergi beli bensin sekalian beli pulsanya niatku, tapi tahu nggak, pas ditengah jalan bensinnya abis, waduh gua bener-bener gak tahu mau ngapain malah pom bensin jauh lagi,,..yaudahlah gua dorong aja dulu motornya ke mash biar aman…
sesampai gua ke mash gua panggil temen gua “bro kamunya dimana?
temen :gua lagi dirumah ni ada apa…
gua :bisa kesisi nggak kalo ada waktu…
temen: ya udah ntar gua kesitu soalnya motor lagi dipake nihh
gua: ok, ok tapi cepet yah..
sesampainya di rumah gua baru ngomong ketemen gua kalo gua tadi kena sial.. wah bener-bener lucu malah diketawain guanya..
makanya gua minta tolong untuk nganterin gua ke pom bensin buat beli bensi, gua sangat berterima kasih ma temen gua, ternyata ditengah-tengah kesibukan dia masih punya waktu buat bantuin gua..
makasih yah kawan..
gua akan inget bantuan loe ini….

Jangan Pernah Putus Asa

Gambar
Siapa yang tak pernah merasa kecewa ???
Sepertinya banyak yang pernah merasakannya termasuk saya….
Dari kecil saya tidak pernah setengah2 dalam melakukan sesuatu termasuk dalam hal pendidikan disekolah, tapi saya juga gak sepintar teman2 saya yang lain, tapi itulah aku yang selalu semangat dan serius dalam menjalani semuanya, hingga pada saat SMP saya begitu kecewa dengan hasil UN saya, dan saya positive tidak lulus UN. Bayangkan aja, guruku aja bangga dengan semangat dan kemampuan saya tapi kenapa saya bisa tidak lulus..kekecewaanku bener2 tidak setengah2 juga,tapi saya tidak pernah putus asa. Saya tetap melanjutkan paket B dan saya baru lulus.
Akhirnya saya lanjutkan SMA disini saya benar2 serius menjadi yang terbaik dan selama SMA saya tidak pernah keluar dari 5 besar, dan pada tahun 2011 saya lulus SMA dengan urutan ketiga nilai tertinggi, saya pun lanjut kuliah dan memilih untuk mengambil jurusan Fisika, semangatku pun makin menyala bahkan saya tak pernah bosan untuk belajar dan belajar tanpa kenal waktu,,hingga selama 2 minggu saya kurang istirahat karena belajar sampai saya jatuh sakit dan dirawat selama 2 miggu…saya benar2 kecewa karena saya tidak bias ikut semester karena sakit, dan ini adalah kesekian kalinya saya gagal untuk berjuang menjadi yang terbaik, hingga pada akhirnya saya ditawari untuk mengikuti training, dan saya pikir2 ya sudah aku ikut training aja..dan saya putuskan untuk meninggalkan kuliah dan teman2 saya, dan ini adalah sebuah pengorbanan yang sangat berat bagi saya, karena semua usaha dan kerja keras saya , harus saya tinggalkan begitu saja..
Akhirnya saya mengikuti training dan semaunya tak seperti yang saya harapkan bahkan saya sangat menyesal meninggalkan kuliah, tapi inilah keputusan dan inilah pengorbanan..satu2nya cara saya adalah hanya “SEMANGAT” itulah modal saya,,saya tak pernah putus asa meski semua yang kuhadapi selalu berat dan selalu berada diantara 2 pilihan,..
Pada akhirnya saya pun selesai training dan saya bingung harus bagaimana lagi, cari kerja apa??? Selama 3 bulan saya tidak ada aktivitas dan saya hanya menunggu untuk mendapatkan pekerjaan meski sya selalu di janji sebuah pekerjaan dan janji itu selalu diundur karena ada hal penting yang mereka urus, akhirnya saya hanya pasrah dan selalu berdoa agar secepatnya saya bisa mendapat pekerjaan,.tapi semau itu ternyata sangat lama..saya sudah hamper putus asa dan ingin memutuskan untuk pulang kekampung halaman tanpa membawa apa2, namun karena saya sering dapat dapat masukan dan dorongn dari teman2 hingga saya masih punya semangat untuk bersabar dan akhirnya saya mendapat satu kesempatan dan kesempatan ini harus saya manfaatkan sebaik mungkin..
Jika saya putus asa maka saya tidak mungkin dapat kesempatan seperti ini..dan inilah awal serta kesempatan saya…
Gambar
Buah semangat dan buah dari ketikdakputus asaaan…
Jangan pernah putus asa karena kesempatan itu selalu ada selama kita memiliki semnagat untuk menjalani kehidupan ini dan jangan pernah lupa untuk berdoa karena tanpa doa maka kita tidak akan merasa tenang..


Sebuah Cerpen “ Gue Gak Nembak Dia Karena Dia Punya Pacar”

Gambar 
Dari sekian banyak kisah yang saya lalui, kisah-kisah semasa SMA merupakan kisah pertama yang mempunyai paling banyak kesan dan kenangan.
            Pada tahun 2008 tepatnya tahun ajaran baru dan disitu sekolah baru gue, pada saat itu gue masih canggung dan temen2 gue juga sama, semua masih pada super calm terutama gue, gak terasa 1 semester terlewati tanpa ada kesan yang begitu berarti dan semuanya terasa biasa aja.
            Semester II kelas X gue gak nyangka ternyata gue masuk kelas unggulan bersama temen2 gue yang lain dari semua kelas, saat itu gue kenalan dengan dengan temen kelas gue dia cewek yang cantik, lucu dan menyenangkan dia kenalan baru gue dikelas itu, dan gue suka banget ma dia, yah bisa dibilang gue cinta ma dia..
            Kalo gue dekat dengan dia gue merasa nyaman banget dan gue merasa cocok benget ma dia tapi gue gak tau apakah dia juga merasakan hal yang sama atau tidak ke gue, soalnya gue gak nembak dia, masalahnya dia punya pacar padahal gue suka banget ma dia sampai penaikan kelas tiba..
            Semester I kelas XI gue makin dekat dan makin merasa nyaman ma dia dan sebulan di kelas XI akhirnya dia tahu kalau gue suka ma dia,tapi dia punya pacar dan gue hargai itu makanya gue belum nembak dia, hari2 berjalan seperti biasa. Semester II kelas XI gue lebih dan makin nyaman lewati waktu-waktu bersama dengan dia tapi gue belum nembak dia juga masalahnya dia punya pacar…Gambar
            Semester I kelas XII gue makin dekat ma dia dan dia makin senang berada disamping gue bahkan saat itu semua teman2 uda tahu kalo gue suka ma dia, bahkan bukan Cuma dikelas gue doang tapi kelas lain juga uda tahu, tapi gue gak nembak-nembak  dia soalnya dia punya pacar. Hingga Semester II kelas XII aku pun belum nembak dia  masalahnya dia punya pacar dan gue hargai itu.dan pada akhirnya kami lulus SMA dan kita berpisah dan gue gak nembak dia masalahnya dia punya pacar.
            Setelah lulus gue daftar kuliah dan masuk disalah satu perguruan tinggi di Makassar tiba2 gue ditelpon ma dia dan katanya bentar lagi dia seleksi masuk perguruan tinggi makanya dia minta saran dari gue dan kebetulan gue punya buku yang cocok untuk dia pelajari, gue tawari dan kita janjian untuk ketemu, akhirnya kita berdua ketemu depan kampus gue tapi itu gak lama dan itu adalah pertemuan terakhir gua ditahun 2011 tersebut. Tapi gue bener2 senang banget bisa ketemu ma dia lagi. Gue seneng masih bisa bantu dia meskipun Cuma sekedar buku. Saat itu gue ngobrol ma dia.dan gue belum ungkapin perasaan gue, gue gak nembak dia soalnya dia punya pacar dan saat itu dia ketemu saya depan kampus bersama dengan pacarnya..
            Gue bener2 gak tahu kenapa gue susah banget ungkapin perasaan gue ke dia dan itu bener2 susah, padahal gue dengan gampangnya ungkapin cinta dengan cewe lain..jauh berbeda jika gue mau nembak dia, 2011 Inilah pertemuan terakhir gue ma dia dan mungkin selamanya gue gak bisa ketemu lagi ma dia..
           Gambar Akhirnya 4 bulan kemudian, gue dapat tawaran yang menjajikan dan gue tinggalin kuliah gue dan minggat dari perguruan tinggi itu,padahal dikampus gue punya pacar yang sayang & cinta banget ma gue, tapi gue ninggalin dia segampang itu, ntah kenapa gue ngerasa gua gak cocok ma dia padahal kita pacaran lebih dari setahun, bahkan setelah gue gak kuliah di Makassar lagi kita masih pacaran. Sejak saat itu selama gue ikuti training selama setahun disalah satu perusahaan BUMN terbesar dia asia tenggara katanya, dan disini gue gak pernah lagi nemuin cewe yang sama seperti cewe yang gue ceritain tadi dari SMA. dan suasana disini jauh berbeda dengan di Makassar , waktu dimakassar banyak yang ngefans ma gue baik dikampus maupun di sekolah gue, maksud gue waktu SMA. Kalo disini yang ngefans Cuma 2 orang doang, maklumlah di tempat training gue gak ada cewe makanya yang ngefans Cuma dikit.
          Gambar  Oyah selama gue SMA sampai kuliah di Makassar 4 bulan gue Cuma punya 8 mantan dan sampai sekarang 2013 gue belum juga nemuin orang yang cocok ma gue.
Tapi Gue bisa ambil banyak pengalaman dan pelajaran berharga  dari kisah ini dan gue yakin mungkin besok atau lusa dan suatu hari nanti gue yakin kalo gue akan nemuin wanita yang cocok dengan gue, yang pasti gue gak mau salah pilih…..

Cerpen “ Riwayat Asmara”
Gambar
Masa muda selalu punya warna dan warna itu gak bertahan cukup lama….
Mudah luntur dan mudah berubah, kali ini gue akan bercerita tentang diri gue  tapi ini lebih khususnya tentang pacar…
Namanya pake inisial aja yahhhh…
Pacar pertama gue inisialnya RN..
GambarRN : ini adalah pacar pertama gue  dan waktu itu gue baru SMP, gak ada seorang pun yang tau kalo gue punya pacar  yang tahu hanya kami berdua, RN orangnya imut, dan enak diajak ngobrol, gue gak pernah merasa bosan dengan dia tiap kali liat wajahnya gue selalu tersenyum, dia bener2 lucu dan ini adalah pengalaman pertama gue pacaran, akhirnya kita pisah gitu aja, gak pernah ketemu lagi dan gak ada kata putus.
GambarNV : ini adalah inisial pacar kedua gue awalnya kami ketemu ditempat wisata niatnya sih pengen berenang tapi kita sering ketemu dan akhirnya kenalan dia orangnya putih rambutnya panjang,kami pacaran selama 2 bulan dan akhirnya putus, sebenarnya sih dia baik tapi dia terlalu calm dan gak banyak ngomong..tapi sebenarnya dia asik orangnya..
GambarTS : kalo ini pacar gue yang ketiga sebenarya sih gue gak terlalu suka benget sama dia tapi gara-gara dia sering kekelas gue,ngobrol2 ma gue akhirnya temen2 gosipin kalo kami pacaran padahal gak, lama-kelamaan mending gue pacaran aja dari pada digosipin terus..akhirnya gue nembak dia dan dia mau, kami pacaran selama sebulan dan akhirnya putus tanpa kenangan yang begitu berarti..
GambarEY :pacar keempat… gue seneng sama cewe ini karena dia bener2 energic dan gua suka cewe seperti ini dan tiap kali gue liat wajahnya gue selalu ingat dengan masa kecil gue, seperti biasa dia orangnya asik, pede dan gue ma dia bener2 mesra dan tanpa kenal rasa malu, bahkan sama guru pun kita masih pede..dan merasa biasa aja..gue bener2 seneng bisa pacaran ma dia tiap kali gue butuh dia selalu ada buat gue,,dan kami pacaran selama 4 bulan kemudian akhirnya putus..
GambarUI : dan ini pacar kelima gue, ciri2nya hitam manis, cuek, jutek makanya gue suka sama dia, beda dari yang lain, selain itu orangnya sangat menyenangkan tiap kali daiajak jalan dia pasti gak pernah nolak, dia punya jiwa petualang kayak gue, tiap dia tersenyum dan tersipu aku selalu pengen memeluk dia, dia orangnya sangat lembut dan perhatian. Tapi kalo disekolah ntah kenapa dia cuek.. hingga akhirnya kami putus, tapi kami pacaran hanya 1 bulan..
Gambar
NT : kalo yang ini pacar keenam gue, pertama kali kenal, waktu gue jalan ma temen gue,temen gue tenyata pengen ketemuan dengan pacarnya, dan waktu itu udah kjam 19:00 wita. Sesampainya gue disana ada cewe lewat depan gue dan ternyata cewe itu serumah ma pacarnya temen gue, ya uda gue minta salam dan kenalan ma dia malam itu juga, sampai waktu ga terasa udah menunjukkan pukul 22:00 wita. N setelah ngobrol ternyata dia adalah adik kelas gue, makanya pas paginya kita janjian untuk berangkat sekolah bareng, malam kedua saya kerumahnya lagi dan kita jadian, esok harinya kami ketemuan dikantin pas waktu istirahat, malam itu juga gue kerumahnya tanpa ada janji terlebih dahulu.karena ada sedikit masalah makanya malam itu juga gue putusin dia,gua menilai dia terlalu murahan..dan kita pacaran hanya 2 malam…
GambarIT : dan ini pacar ketujuh gue, awalnya dia sms gue, padahal gue belum kenal ma dia,kebetulan dia tetangga ma temen gua dikelas sebelah temen gue selalu bilang kalo adik kelas gue itu ngefans ma gue, akhirnya kita kenalan, dia orangnya cantik, manis banget, lugu lagi,,dan 3 hari kemudian gue nembak dia dan kita jadian, tapi kita pacarannya gak lama so gue uda mau lulus SMA, dan dia baru kelas X, dan kebetulan banget kami berdua ulang tahun di tanggal dan bulan yang sama, yakni 2 juni..akhirnya kita tukaran kado dan gue sangat hargai itu..next karena gue udah tamat SMA gue lanjut kuliah diluar kota dan saat itu juga kita lost contack!!!
       Tapi kita gak ada kata putus dan kebetulan juga 1 tahun kemudian gue kesekolah gue legaliser ijazah, dan tanpa sengaja gue ketemu ma dia, dia nyapa gue dari jauh dan kita ngobrol bentars setelah itu gue pamitan..katanya dia seneng banget bisa ketemu ma gue setelah sekian lama. Dan sebenarnya gue juga seneng..
GambarSM : untuk kesekian kalinya, ini pacar gue yang kedelapan. Kami pacaran selama setahun lebih dan sebagian diantanya adalah pacaran jarak jauh, tapi meskipun kita uda putus tapui silaturahmi masih terjalin baik loh. Meskipun kita udah putus tapi dia sering ngomong ke gue kalo dia belum bisa lupain gue, awal mula kita pacaran pertama dia juga yang sms gue lebih dulu dan akhirnya kita ketemu dikampus, disitulah kita mulai dekat dan pada akhirnya kami ikut Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dikampus baru kami,akhirnya kita cinlok di tempat wisata , dimana kita selenggarakan pengkaderan LDK, nah disini kita dikenal sama banyak senior akhirnya sehari kemudian gue nembak dia dan kita jadian..dan dia pun 1 kelas ma gue..dan sampai sekarang 2013 udah hamper 1 tahun saya gak pernah ketemu dia lagi,..soalnya gue mutusin untuk lanjutin pendidikan di pulau jawa..
“ gue sadar mencari pasangan yang cocok bukanlah hal yang mudah dan jika kita mencari kesempurnaan darinya maka kita tidak akan pernah menemukannya,karena kesempurnaan tidak dimiliki oleh manusia..dan gue uda mutusin untuk berubah gue yakin jodoh tidak kemana dan suatu hari saya akan menemukan yang lebih baik.. dan inilah awalnya..lets the beginning…
Gambar
Once again, gue pernah ditolak sebanyak 3 kali dan 1 diantaranya bikin gue galau dan dua diantaranya biasa aja…

Indahnya Cinta Ratih




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 19 November 2015


“Sedang apa malaikat kecilku di sana? Apa ia sudah makan? Apa tawanya masih mengembang di bibir mungilnya? Apa ia sudah bisa merangkak, berjalan atau mungkin sudah bisa berlari…”
Setetes air mata jatuh kembali mengenai kepalan tangan seorang wanita berambut lurus hitam itu. Tangan kirinya meraih sapu tangan kecil dan menyeka pelipis matanya perlahan. Tapi tampaknya semua itu percuma, air matanya bukan berhenti malah kembali menetes bahkan kini lebih deras hingga sapu tangan berwarna jingga itu menjadi basah.
Wanita itu berusaha menguasai diri segigih mungkin, tapi semakin ia menguasai diri, maka hatinya semakin bergejolak. Menentang kenyataan yang terlalu pahit untuk dirasakannya. Ego, amarah, penyesalan, berbaur menjadi satu, yang mampu terekspresikannya melalui air mata. Ya! Hanya air mata yang mampu menjelaskan kegundahannya dan hanya air mata yang mampu menjelaskan kerinduan pada sang malaikat kecilnya, Amelia.
Sambil tergopoh-gopoh Ratih mencoba bangkit dan meraih satu-satunya foto di apartemen mewah itu. Ya, itu foto dirinya dengan Amelia. Ia meraba foto itu dengan sangat perlahan dan penuh cinta, cinta yang telah lama terpendam yang hanya tersalurkan lewat foto yang terbingkai anggun itu. Karena hanyalah foto itu satu-satunya benda yang bisa meredam rasa rindunya dan setiap kali memeluk foto itu ia selalu berharap, anaknya -Amelia- bisa kembali lagi kepangkuannya.
Ratih mulai menyadari suatu hal, ternyata uang memang tidak bisa menggantikan apapun. Apalagi sebuah nyawa -dari darah dagingnya sendiri. Ia berkali-kali mengutuk kebodohan itu. Kebodohan yang telah membuatnya menderita kini. Bagaimana setan bisa menutupi akal sehatnya hingga dengan sadar ia menaruh buah hatinya yang baru saja ia lahirkan ke dalam kardus dan ditinggalkan di depan sebuah pintu rumah. Tadinya perasaan bersalah masih menggerayangi hati nurani Ratih tapi akalnya yang telah dikuasai setan itu mengelak.
“Anak itu hanya menghabiskan uang kita. Anak pun kerjaannya hanya merepotkan dan menyusahkan saja. Tak ada gunanya.” Begitulah pikiran Ratih dulu, apalagi sang anak dibuang di depan rumah orangtuanya.
Itu yang membuatnya semakin merasa tak berdosa. Ya, walaupun orangtua Ratih tidak tahu menahu tentang kelahiran Ratih, setidaknya mereka tidak mungkin membiarkan cucu mereka menangis kesepian di luar. Ratih baru memberitahu orangtuanya tepat ketika sang Ibu membuka pintu, ia pun langsung mengatakan dalam telepon bahwa itu adalah bayinya dan ia meminta untuk merawatnya hingga besar. Sang Ibu yang sudah berusia separuh baya itu hanya tersentak kaget. Sambungan telepon itu terputus sebelum sang Ibu mengatakan apapun. Anak itu memang bukan hasil pernikahan halal melainkan hasil ketidaksengajaan hubungan gelap Ratih. Oh lebih tepatnya bukan kesengajaan, tapi itu pekerjaannya. Ya! Melayani lelaki hidung belang. Saat mengetahui bahwa dirinya hamil, Ratih memang tidak berpikiran untuk melakukan aborsi, tapi lama kelamaan ia berpikir mempunyai anak akan sangat menganggu aktivitas serta reputasi pekerjaannya.
Tapi.. jiwa keibuan yang sejatinya ingin mempunyai seorang anak pun terpancar dari dalam jiwa Ratih. Ia ingin sekali memeluk dan menciumi anaknya yang masih harum itu, ia ingin sekali mendengar tangis pertama buah hatinya ketika melihat dunia, ia ingin sekali membisikkan pada malaikat kecilnya itu bahwa ialah yang selama sembilan bulan ini mengandungnya, dan satu hal lagi Ratih ingin anaknya menjadi wanita yang sukses dan dikenal banyak orang bukan seperti dirinya yang hanya seorang wanita yang selalu dihina dan dipandang sebelah mata. Air mata Ratih beriringan membasahi wajahnya yang peluh.
Ratih hampir tidak percaya, di tangannya kini ada seorang bayi mungil yang sangat cantik, sungguh berbeda dengannya. Senyumnya pun sangat menawan hingga mampu menghipnotis siapapun yang memandangnya. Ratih pun langsung memikirkan sebuah nama, tidak perlu waktu lama ia langsung menemukan, Amelia, ya, nama yang tampaknya sangat cocok untuk malaikat kecilnya. Air mata Ratih pun menetes lagi, menyadari bahwa ia tak pernah merasakan bahagia sehebat ini.

Malam mulai membentangkan jubah hitamnya, menyisihkan sang raja siang kembali ke peraduan, menyirnakan degradasi senja yang sarat akan keteduhan. Sayup-sayup terdengar tiupan angin yang mengusik dedaunan hingga bergesekkan. Suara binatang malam pun mulai mengaum mencekam. Malam itu purnama menggelegar benderang hingga tak satupun awan kelabu yang berani mengganggunya. Berbalik dengan Sirius, yang malah setia berada di dekatnya. Malam sejatinya mempunyai dua makna yang berlainan tapi tak dapat terpisahkan layaknya dua sisi mata uang. Sebenarnya Ratih tak sepenuhnya percaya bahwa malam mempunyai dua makna, yang ia tahu malam hanya mempunyai satu makna. Makna yang mengingatkannya pada jeritan nista-nista.
Dunia kelam itu nyatanya lebih kejam dari gulitanya malam. Karena dunia itu mengharuskannya melakukan nista dengan berharap Tuhan masih mampu memaafkan dosanya. Ratih sadar jiwanya terus memanggil-manggil untuk tidak lagi melakukan nista itu. Tapi entah kenapa, banyak bisikan-bisikan jahat yang hendak menutupi niat baiknya. Ratih pun tak tahu, ia harus memilih yang mana. Kini, ia sudah memiliki segalanya, apartemen mewah, BMW sufia hitam, dan segenap tabungannya yang ia yakin mampu menopang hidupnya selama dua tahun tanpa bekerja sekalipun. Night club itu seolah sudah menyatu padu dalam jiwanya. Hingga begitu sulit untuk melepasnya walaupun ia tahu, itu langkah yang baik.
Pikirannya beradu, bimbang, resah, gundah, memikirkan keputusan apa yang harus diambilnya, sementara itu, kehampaan jiwanya terus mengaduh, menggoyahkan relung hatinya. Ratih sejatinya hanyalah manusia biasa. Ia tentu butuh kedamaian hidup yang lebih manusiawi, yang tak dapat ia temukan ketika ia bekerja di klub malam. Entah mengapa, saat kehampaan itu mulai menjalar ke dalam jiwanya, ia selalu teringat pada seseorang. Dan orang itu adalah Amelia, bayi kecilnya yang mungkin sekarang sudah beranjak besar.
Mengapa dulu ia sama sekali tidak merasa berdosa ketika berusaha meninggalkan bayinya sendirian di tengah malam. Mengapa dirinya begitu tega membiarkannya anaknya yang baru menghirup udara dua hari, terlantar kesepian. Apakah hatinya terbuat dari batu, sehingga tidak dapat merasa kasihan. Ratih yakin, jika setiap orang mempunyai julukan, pasti dirinya sudah dijuluki manusia si keji dan si hina. Sebenarnya hampir tak ada perbedaan dari kedua kata itu, tapi menurutnya satu kata tak mampu melukiskan dosa yang selama ini ia perbuat. Mungkin memang memerlukan dua kata, tapi mempunyai satu inti. Yaitu, manusia yang tak pantas hidup atau mungkin pel*cur dan pembuang bayi.
Ratih tertunduk pasrah. Ia pasrah terhadap kelanjutan liku hidupnya yang entah bagaimana. Ia pasrah terhadap takdir Tuhan yang telah tertulis untuknya. Ia pasrah. Ya! Memang seharusnya begitu. Manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Tuhanlah yang maha mengatur, menentukan nasib, dan jalan takdir semua makhluk-makhlukNya. Bahkan daun yang jatuh ke sungai pun itu adalah takdirNya. Hanya dengan berserah diri pada-Nya, kita bisa menjalankan hidup ini tanpa beban. Ratih kembali mengusap air matanya yang berjatuhan. Ia mulai merenungi akan dosa-dosanya, yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Hati kecilnya bertanya, mungkinkah Tuhan akan memaafkan dosanya. Ia menggeleng perlahan.
Wanita itu mendengar suara yang bergemerisik. “Suara itu…” Ratih terasa sangat mengenali suara itu. Seketika telinganya langsung terasa teduh ketika mendengar suara itu. Ternyata itu suara, Adzan. Sungguh ia sangat rindu panggilan adzan itu. “Kemanakah diriku selama ini. Sampai suara Adzan pun hampir tak ku kenali.” gumamnya.
Ratih memang hampir lupa identitas keislamannya, sejak mengenal dunia kelam itu. Selama ini ia memerlakukan Tuhan sebagai sasaran kesalahannya, seperti Amelia tidak bersamanya itu semua karena takdir Tuhan, pikirnya. Ajaran ibadah yang sejak kecil ditanamkan dalam dirinya seakan sirna begitu saja. Ratih bahkan lupa kapan terakhir ia salat dan kapan terakhir ia mengucap syukur pada Tuhan.
Oh manusia sepantasnya tidak begitu. Ratih kembali menangis tersedu, namun kini ia menangis dalam khusyuknya sujud yang tu’maninah. Air matanya bergelimpangan saat ia mulai mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Ya Tuhan, hamba hanyalah makhluk-Mu yang hina. Yang tak terhitung berapa banyak dosa yang telah hamba lakukan. Jikalau Engkau sudi, maafkanlah dosa hamba. Namun jika tidak, hamba akan mempersiapkan diri untuk menelan api neraka yang telah Kau janjikan itu. Tapi sebelum itu, hamba ingin Kau kembalikan Amelia ke sisiku lagi. Izinkanlah di sisa umurku ini aku bisa hidup bahagia bersama Amelia. Dan izinkan hamba untuk menebus segala dosa-dosa yang telah hamba lakukan padaMu, pada Amelia dan pada orangtua hamba. Mohon kabulkanlah rintihan doa hambaMu yang lemah ini ya Robb. Aamiin.”

Pagi kembali datang menyongsong, dihias pesona fajar yang mampu menghipnotis siapa saja yang memandangnya. Proses terbitnya mentari yang indah ini merupakan salah satu keajaiban yang sangat luar biasa dari Dzat pencipta keindahan, Allah azza wa jala. Dari langit yang hitam perlahan menjadi biru tua, lalu biru agak tua, berubah jadi biru sedang bercampur oranye tua hingga menjadi biru cerah dengan kuning keemasan. Kini malam telah sirna meninggalkan jejak-jejak gelapnya. Lembaran pagi yang masih suci terlahir kembali. Lembaran itu benar-benar masih kosong, bersih dan putih. Alangkah baik jika kita menghias lembaran kosong itu dengan cantik dan penuh warna.
Itu juga yang dipikirkan Ratih. Ia janji akan membuat lembaran hari baru ini menjadi lembaran yang cantik dan indah. Kini, keputusannya telah bulat untuk berhenti bekerja di klub malam itu. Ratih mulai menata hidupnya kembali. Hari ini, ia sangat bahagia, karena hari ini Ratih akan berkunjung ke rumah orangtuanya. Ia akan bertemu Amelia. Kemarin ia sudah menelepon Ibunya untuk menanyakan keadaan anaknya itu, sambil menyampaikan permintaan maaf. Kebetulan, hari ini Amelia baru pulang dari studytour-nya, setelah dua hari menginap. Hati Ratih sangat berbunga. Bahkan ia telah mempersiapkan kamar yang sudah dihias dengan bunga-bunga untuk anaknya itu. Rencananya Ratih akan mengajak Amelia beserta Ayah dan Ibunya untuk tinggal di apartementnya ini. Ia akan benar-benar memulai hidup baru.
Sejurus kemudian Ratih telah sampai di rumah orangtuanya. Ia langsung berhambur ke pelukan Ibu dan Ayahnya. Rasanya telah lama sekali tubuhnya tidak merasakan pelukan sehangat dan sedamai ini. Ia pun kembali menyampaikan permintaan maaf atas kedurhakaannya selama ini. Sebesar apapun dosa sang anak pasti hati orangtua selalu terbuka untuk memaafkan. Terkadang Ratih pun merasa malu pada dirinya sendiri, sebagai anak ia merasa sudah melakukan dosa yang sangat besar pada orangtuanya sampai-sampai ia tidak percaya bahwa dosanya yang begitu besar itu dengan sekejap langsung termaafkan.
Ratih pun langsung menanyakan keberadaan Amelia pada sang Ibu setelah beberapa saat ia tak melihat tanda-tanda kehadiran anaknya. Dengan muka yang agak kecewa sang Ibu pun menjelaskan dengan sangat hati-hati, “Ibu nggak tahu nduk, Amelia belum pulang juga. Padahal jadwalnya jam 8 tadi ia sudah sampai. Ibu sudah mencoba menelpon wali muridnya, tapi handphone-nya nggak aktif. Ibu juga sudah menelepon guru pembimbingnya, tapi handphone-nya juga gak aktif. Kebetulan pihak sekolah menelepon Ibu untuk tetap sabar menunggu. Kemungkinan bus yang ditumpangi Amelia terjebak kemacetan panjang..”
Air muka Ratih seketika langsung kacau balau. Beberapa kemungkinan buruk langsung berkelebat di pikirannya. Hati kecilnya bertanya-tanya, naluri keibuannya coba untuk merasakan putri kecilnya. Tapi entah mengapa, hanya perasaan buruk yang menggerayangi hatinya. Ratih pun sangat takut jika putrinya terluka di luar sana.
“Jangan khawatir anakku, tadi pihak sekolah juga menjanjikan jika sampai sore nanti bus rombongan Amelia belum juga tiba, mereka akan melakukan pencarian. Jadi…”
Suara telepon berdering.
“Sebentar ya nak.” sambung sang Ibu lalu mengangkat telepon.
Ratih pun tertekuk dengan pikirannya, ia tak menghiraukan kata-kata sang Ibu lagi, fokusnya hanya satu. Ya! Keberadaan putri kecilnya.
“Ratih…” panggil sang Ibu.
Ratih mengangkat wajahnya menghadap sang Ibu tanpa berkata apapun.
Sepertinya sang Ibu pun paham akan perasaan Ratih, ia masih mencoba menenangkan anaknya dengan mengatakan semuanya dengan hati-hati. “Mobil rombongan Amelia ditemukan warga jatuh ke jurang nak. Semua korban selamat tapi mengalami luka yang sangat parah. Tadi Ibu ditelepon pihak sekolah, kita harus ke rumah sakit sekarang.”
Ratih pun tak bisa berkata apa-apa lagi, mulutnya membungkam rapat, napasnya tertahan di tenggorokan, satu lagi kenyataan pahit yang harus ia telan.
           Rumah sakit yang besar ini ternyata sudah penuh sesak dengan petugas maupun sanak keluarga dari korban bus rombongan yang terjatuh di jurang itu. Tak ada tawa yang terlihat di sini, hanya isak tangis, suara rintihan serta wajah tabah yang mengiringi setiap tancapan infus dan lilitan perban. Bau obat-obatan yang menyeruak pun membaur bersama derap kaki yang hilir mudik ke mari. Begitupun dengan Ratih dan sang Ibunda, satu persatu perawat ditanyai tentang keberadaan Amelia.
Tapi semua perawat yang ditanyainya tak satupun yang tahu, mereka hanya menggeleng lalu meninggalkan pergi. Terpaksa Ratih pun harus memeriksa satu persatu kamar rawat yang ada di rumah sakit itu. Kebetulan sang Ibunda menemui guru pembimbing Amelia, ia pun menanyai keberadaan cucunya. Dengan wajah sangat menyesal sang guru pun memberitahu keadaan buruk yang telah menimpa Amelia. Tampaknya Ratih pun telah siap dengan semua kenyataan yang akan diterimanya, walaupun ternyata kenyataan itu terlalu pahit baginya.
Ternyata tak butuh waktu lama untuk menemui kamar putri kecilnya. Ratih langsung berhambur memeluk putrinya yang terbebat banyak perban itu. Amelia langsung tersenyum ia pun mengeratkan pelukannya. “Nenek…”
“Amelia kamu nggak apa-apa sayang?” sambar Ratih sambil menggenggam tangan putrinya.
“Kamu siapa? Nenek mana? Kamu bukan Nenek..”
Dengan berat hati Ratih pun melepaskan tangannya dari Amelia, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat baginya untuk memberitahu Amelia bahwa ia adalah Ibu kandungnya. Hati Amelia pasti akan sulit menerimanya ditambah keadaannya yang telah berbeda sekarang.
“Nenek di sini sayang. Kamu jangan takut..” Sambut sang Nenek sambil mencium kening cucunya.
Sekilas senyum terbentang di bibir mungil Amelia, ia pun mengenggam tangan sang Nenek erat.
“Nek, mata Lia kenapa gak bisa kebuka. Lia kenapa nek. Kenapa badan Lia semuanya sakit. Lia di mana? Lia gak bisa lihat nek, mata Lia juga sakit.”
“Tenang ya sayang, kamu jangan banyak gerak nanti badan kamu tambah sakit. Lebih baik kamu sekarang tidur, besok kalau badan kamu udah enakan, Nenek akan jelasin semuanya ke kamu..”
“Tapi Nenek jangan kemana-mana ya, jangan ninggalin aku.” tambah Amelia.
“Nenek janji sayang..” Setelah mengecup kening Amelia, sang cucu pun langsung terlelap dengan mengenggam sebelah tangannya.
Ratih memerhatikannya dengan seksama, ia bahagia putrinya itu ternyata mempunyai Nenek yang sangat menyayanginya. Hati kecilnya pun bertanya, masih butuhkan Amelia dengan Ibu yang selama ini sudah menelantarkannya. Ditambah sekarang keadaan Amelia yang kehilangan penglihatannya akibat terbentur pecahan kaca mobil yang mengenai kedua matanya. Perasaannya kembali berkecamuk, terkadang ia merintih pada Tuhannya, “Ya Robb, mengapa engkau timpa aku dengan suatu masalah lagi, padahal kebahagiaan baru saja datang menghampiri.”

Langit yang gelap perlahan membiru seiring mencairnya embun yang bergelayut di ujung dedaunan. Pagi ini Ratih terbangun dan menjawab sahut-sahut suara adzan yang menggetarkan kalbunya. Sekilas ia melihat Amelia yang masih tertidur pulas bersama Ibundanya. Untuk sesaat ia memandangi wajah Amelia yang masih sangat bersih itu, walaupun beberapa perban melilit wajah putri kecilnya, tapi itu tidak menghilangkan kecantikan yang terpancar. Oh, ia pun seperti melihat bayangan dirinya di wajah Amelia. Ternyata anaknya sangat mewarisi karateristiknya. Ratih tersenyum simpul, tampaknya kini ia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Keajaiban air wudu ternyata memang benar adanya. Buktinya walaupun Ratih hanya membasuh sebagian tubuhnya tapi kesegaran itu merambat hingga ke seluruh tubuhnya bahkan hingga ke dalam pikiran dan hatinya. Dengan penuh khusyuk Ratih memulai takbiratul ikhram dengan perlahan dilanjutkan ruku, sujud, dan kemudian diakhiri dengan salam. Dalam doanya Ratih kembali merintih dan memohon kesembuhan atas putri kecilnya. Selesai salat langsung bangkit dan mencium kening anaknya sambil membisikkan, “Ibu mencintaimu nak.”
Dengan langkah mantap Ratih berjalan ke ruangan dokter yang menangani Amelia. Tanpa basa-basi Ratih langsung menanyakan detail tentang kondisi putrinya.
“Tidak ada masalah yang cukup serius dengan putri anda. Hanya memar ringan di bagian lutut, tangan serta pelipisnya. Kalau untuk mata, saya harus mengatakan sejujurnya. Mata putri anda terkena pecahan yang menusuk cukup dalam hingga mengenai retina matanya. Bola mata itu pun rusak parah, dan tidak bisa diselamatkan. Bisa kami simpulkan Amelia akan mengalami buta permanen. Anda tidak perlu khawatir, kami pun telah memasukkan nama putri anda sebagai pencari donor mata. Namun memang itu membutuhkan waktu yang lama, kiranya anda harus bersabar..”
Ratih berpikir sejenak, ia tak mungkin tega membiarkan putrinya berlama-lama menanti donoran mata. Amelia pasti akan depresi dan sedih berkepanjangan. Bukankah tujuannya menemui anaknya itu untuk mencari kebahagiaan. Mana mungkin ia akan bahagia jika anaknya tidak bahagia. Dan bagaimana bisa Amelia mempercayainya sebagai Ibu yang telah melahirkannya, sedangkan Amelia sendiri tak dapat melihat wujud dirinya. Akhirnya Ratih pun menyimpulkan suatu keputusan bulat. Ya! Ia sendiri yang akan mendonorkan matanya.
Operasi pemindahan retina mata itu langsung terjadi siang itu juga. Ratih sendiri yang memintanya begitu. Ia tak mau menunda-nunda, karena semakin ditunda itu akan membuat putri kecilnya semakin sedih. Sebelum menjalankan operasi, Ratih menyampaikan diri untuk melihat kembali wajah putrinya yang masih tertidur pulas. Ia pun menitikkan air mata, menyadari ini adalah saat terakhir kalinya ia dapat memandangi wajah putri kecilnya yang sudah delapan tahun tidak ditemuinya. Walaupun hanya sesingkat ini, Ratih yakin ia akan mampu mengingat wajah putrinya walau nanti ia tidak bisa melihatnya lagi. Karena wajah itu bukan tersimpan di memori otaknya yang seiring waktu bisa saja hilang, melainkan ia menyimpannya di hati, yang akan abadi dan tak mampu lekang oleh waktu.
Sang Ibu yang baru mendengar kabar pendonoran mata Ratih, langsung mencari-cari anak sulungnya itu dengan hati cemas. Ternyata Ratih sedang duduk dekat ruang operasi bahkan telah berganti dengan pakaian operasi.
“Nduk Ibu cari kemana-mana ternyata kamu di sini. Kamu ngapain Nduk pake baju ini?” tanya sang Ibu.
Ratih langsung bangkit dan memeluk Ibunya erat sambil menitikkan beberapa air mata yang dengan kilat langsung diusapnya. “Bu, doain Ratih ya, Ratih mau mendonorkan mata buat Amelia biar Lia bisa melihat lagi bu..”
Sang Ibu pun tak bisa menyembunyikan lagi air matanya yang ingin ke luar. “Kenapa harus kamu Nduk? Kita kan bisa nunggu pendonor mata yang lain..”
“Tapi itu pasti lama bu, Ratih nggak mau Lia nunggu terlalu lama. Mata Ratih ini sudah terlalu banyak berbuat dosa bu, sekarang saatnya untuk mata Ratih ini menghapus dosa-dosanya. Lagi pula orang yang akan menerima mata Ratih ini, anak Ratih sendiri bu. Jadi Ratih sama sekali nggak ragu..”
“Baiklah kalau begitu yang kamu mau. Tapi Ibu tetep nggak tega kalau kamu yang harus mengorbankan matamu Nduk..” jawab sang Ibu masih tersedu.
Ratih mengusap air mata yang mengaliri pipi Ibundanya. “Ibu harus yakin, ini demi kebaikan Amelia. Dia yang lebih membutuhkan sepasang mata, daripada Ratih. Lia masih harus bermain dan tertawa seperti teman-temannya yang lain yang masih mampu melihat indahnya dunia..”
“Tapi gimana dengan kamu Nduk? Kamu pun juga membutuhkan itu..”
“Nggak bu, Ratih nggak butuh apa-apa. Yang Ratih butuhkan itu cuma senyum dan tawa Amelia. Kalau Lia bahagia, Ratih pun bahagia..” jawab Ratih mantap.
Tak lama, seorang perawat pun datang menghampiri Ratih dan memintanya untuk segera masuk ruang operasi, karena operasi itu akan segera dimulai.
“Bu doain Ratih ya, semoga operasinya berjalan lancar..” ucap Ratih sambil mencium tangan Ibundanya dengan penuh rasa hormat dan cinta.
Operasi itu telah selesai setelah berjalan dua jam lamanya. Amelia dan Ratih ditempatkan di ruang rawat yang berbeda. Sang Ibu langsung menghampiri anak dan cucunya bergantian, dalam hatinya ia terus melafalkan doa agar anak dan cucunya bisa cepat pulih kembali.

Tak terasa senja kembali membias bersama jingganya langit di ufuk barat. Ratih hampir tak percaya, inilah senja pertama yang dilewatinya tanpa sepasang mata. Ya, memang agak berbeda, tapi ia masih mampu merasakan desiran angin yang membelai wajahnya lembut. Ratih bergumam, “Walaupun senja kini tak dapat ku pandangi, tapi aku bahagia masih mampu merasakan kedamaian dan keteduhannya. Sungguh ini tak jauh berbeda. Terima kasih ya Robb, kau memang maha adil, kehilangan penglihatan ternyata bukan berarti kehilangan segalanya..”
Suara ketukan pintu.
“Ibu…”
“Iya ini Ibu Nduk. Kamu sudah siuman ternyata.” ucap Ibu sambil membelai rambut anaknya yang tergerai panjang.
“Iya bu. Amelia gimana, dia sudah siuman atau belum?” balas Ratih.
“Alhamdulillah sudah, Ibu barusan menyuapinya. Kamu mau makan Nduk?”
“Nanti saja bu, Ratih masih kenyang. Ibu saja dulu yang makan, Ibu pasti belum makan.”
“Ibu sudah makan kok Nduk. Ya sudah kalau ada apa-apa panggil Ibu aja ya Nduk, atau kamu tekan belnya. Ini, bel-nya ada di samping tangan kananmu ya. Ibu mau ke kamar Lia lagi.” ucap sang Ibu lalu mengecup kening anaknya lalu membisikkan, “Ibu mencintaimu Nduk.”
Setelah pintu terdengar ditutup, Ratih menitikkan air mata. “Kenapa aku baru sadar bahwa selama ini aku mempunyai Ibu yang sangat perhatian dan sayang padaku. Kenapa baru sekarang…” lirihnya sambil terus mengusap butiran bening yang membanjiri pelipis matanya.
Pagi ini benar-benar membahagiakan untuk Ratih, karena hari ini Amelia sudah diperbolehkan pulang. Ia mencoba membayangkan senyum di wajah putrinya sambil bergumam, “Pasti ia akan tersenyum seperti itu..” Walau di luar langit meradang dan rintik hujan mulai turun perlahan, rasa bahagia itu tak luput dari hati Ratih. Ia malah berpikiran, hujan ikut mengamini kebahagiannya saat ini.
“Nenek, hari ini aku boleh pulang kan?” ucap Amelia semangat.
Sang Nenek menghampiri cucunya dan membelai wajahnya dengan lembut, “Iya sayang, mulai hari ini Lia boleh tidur di rumah..”
“Yes. Horee. Lia udah bosen nek tidur di sini, kasurnya sempit, nggak ada mainan dan nggak ada temen..”
“Iya, tapi kalau udah pulang Lia jangan banyak main dulu ya, luka Lia belum sembuh benar.”
“Siap nek.” balas sang cucu sambil merekahkan senyum lebar di antara katup bibirnya.
“Oh iya, Lia pakai jaketnya ya, kayaknya di luar gerimis..” Sang Nenek memasangkan jaket di tubuh cucunya lalu kembali membelai rambut cucunya yang tergerai sebahu.
Ratih yang mendengarkan percakapan itu betul-betul merasa bahagia. Ini adalah kali pertamanya ia mendengar suara putrinya yang begitu bergembira. Andai ia juga mampu melihat raut wajah gembiranya Amelia, mungkin dunia dan seisinya pun tak akan sebanding dengan itu. Sekali lagi Ratih harus meneguk kepahitan dan berlirih pelan. “Itu tak mungkin terjadi.”

Semilir angin mulai menghembus perlahan. Menggeretak bebatuan hingga memecah keheningan di sela katup bunga yang hampir mekar. Dedaunan pun ikut bergoyang seolah menikmati irama yang didendangkan oleh angin. Sang raja siang mulai beranjak menuju tahtanya, sinar keemasan pun mulai berlomba menyelinap di balik sela-sela sempit, menembus air, dan menggelayut di tulang dedaunan. Semuanya bertasbih, memuji keagungan sesuai dengan titah Tuhan-nya.
Rumah sederhana berpagar tanaman itu kini tampak lebih ramai dari biasanya. Ya, karena sudah dua minggu ini rumah itu bertambah satu penghuni yang mungkin akan tinggal menetap di sana. Kini. Di balai depan rumah itu terlihat seorang wanita muda sedang bercengkerama dengan seorang gadis kecil yang asyik memainkan boneka barbienya. Terkadang wanita itu tak sengaja menjatuhkan mainan yang dipasang sang gadis kecil, tapi gadis itu tetap tersenyum dan seakan mengerti keadaan wanita muda yang selalu berpegangan pada tongkat kayu.
“Maaf ya Lia, pasti mainanmu kesenggol Tante lagi.” ucap Ratih sambil meraba-raba mainan yang tadi disenggolnya.
“Udah nggak apa-apa Tante. Biar Lia yang ambil.” balas Amelia dan meraih mainannya yang jatuh ke lantai.
Ratih tersenyum mendengar jawaban putri kecilnya itu. Ternyata putrinya memiliki hati yang sangat lembut, yang berbanding terbalik dengan dirinya. Kalau begini, ia ingin cepat-cepat memberitahu Amelia bahwa ia adalah Ibu kandung yang sebenarnya, tapi.. entah bagaimana cara mengucapkan itu semua.
“Lia.. Apa Lia tahu sekarang Ibu Lia di mana?”
“Nggak. Dari kecil, Lia cuma punya Nenek, Kakek dan Mas Imam. Kata Nenek, Ibu Lia lagi kerja yang jauuuh di sana sama seperti Ayah Lia yang juga lagi kerja jauh.”
Ratih tersentak mendengar kata Ayah dari mulut anaknya. Ia benar-benar tak sempat berpikir, bagaimana jika ia memperkenalkan diri sebagai Ibunya, lalu Amelia bertanya padanya tentang keberadaan Ayah anak itu. Bagaimana mungkin ia bisa menjawab. Bahkan sampai sekarang pun, ia tidak tahu lelaki mana yang telah menghamilinya. Ratih berpikir keras, tapi ia memilih mengabaikan itu.
“Tapi kalau ternyata Ibu Lia sudah kembali, apa Lia mau memeluknya?”
“Pasti. Lia udah kangen banget sama Ibu. Lia nggak akan ngelepas Ibu lagi buat kerja. Lia akan minta Ibu buat nemenin Lia tidur. Lia akan nunjukin semua hasil ulangan Lia selama ini, dan minta Ibu buat ngambil rapor Lia nanti”
“Dan kalau Ibu Lia ada di hadapan Lia sekarang, apa yang mau Lia katakan pada Ibumu nak?” tanya Ratih dengan penuh harap.
Gadis kecil itu sedikit mendongak menghadap wajah Ratih lalu kembali merunduk sambil mengatakan “Ibu.. Lia kangeen banget sama Ibu. Walaupun Lia belum pernah lihat wajah Ibu, tapi Lia sayaaang sama Ibu. Lia janji, Lia nggak akan jadi anak yang nakal lagi. Tapi Ibu juga harus janji, nggak akan tinggalin Lia lagi”
Mata Ratih seketika langsung basah tergenang air mata. Dirinya terguncang kuat, kakinya bergemetar, ia pun mencoba menggapai-gapai tubuh putrinya dengan kedua tangannya. “Kemari nak, ini Ibumu. Peluk Ibumu seperti yang kau bilang nak.”
Amelia menoleh, mendapati Ratih yang sedang tersedu. “Tan..te.. ini Ibuku?”
Ratih mengangguk lalu Ibu dan anak itupun berpelukan erat seakan tak ingin lepas.
“Maafkan Ibu ya nak, Ibu sudah menelantarkanmu selama ini. Seharusnya Ibu lebih cepat pulang dan memelukmu seperti ini. Apa Lia mau memaafkan Ibu?”
“Lia mau bu. Tapi apa Ibu janji nggak akan pergi lagi?”
“Iya sayang.” Ratih mencium kening anaknya dengan penuh cinta.
Air matanya terus mengalir deras. Selama delapan tahun ini, ia baru merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Walau kedua matanya kini sudah tidak dapat melihat indahnya dunia lagi, tapi ia yang akan membiarkan dunia melihat keindahan kasih cintanya bersama putri kecilnya -Amelia.
“Ibu ingin dengar kata-kata yang kau ucap tadi nak, jika Ibumu sudah ada di hadapanmu”
Lia berbalas mencium kening Ratih lalu membisikkan ke telinganya. “Lia mencintai Ibu.”
Selesai