Indahnya Cinta Ratih
“Sedang apa malaikat kecilku di sana? Apa ia sudah makan? Apa tawanya
masih mengembang di bibir mungilnya? Apa ia sudah bisa merangkak,
berjalan atau mungkin sudah bisa berlari…”
Setetes air mata jatuh kembali mengenai kepalan tangan seorang wanita
berambut lurus hitam itu. Tangan kirinya meraih sapu tangan kecil dan
menyeka pelipis matanya perlahan. Tapi tampaknya semua itu percuma, air
matanya bukan berhenti malah kembali menetes bahkan kini lebih deras
hingga sapu tangan berwarna jingga itu menjadi basah.
Wanita itu berusaha menguasai diri segigih mungkin, tapi semakin ia
menguasai diri, maka hatinya semakin bergejolak. Menentang kenyataan
yang terlalu pahit untuk dirasakannya. Ego, amarah, penyesalan, berbaur
menjadi satu, yang mampu terekspresikannya melalui air mata. Ya! Hanya
air mata yang mampu menjelaskan kegundahannya dan hanya air mata yang
mampu menjelaskan kerinduan pada sang malaikat kecilnya, Amelia.
Sambil tergopoh-gopoh Ratih mencoba bangkit dan meraih satu-satunya
foto di apartemen mewah itu. Ya, itu foto dirinya dengan Amelia. Ia
meraba foto itu dengan sangat perlahan dan penuh cinta, cinta yang telah
lama terpendam yang hanya tersalurkan lewat foto yang terbingkai anggun
itu. Karena hanyalah foto itu satu-satunya benda yang bisa meredam rasa
rindunya dan setiap kali memeluk foto itu ia selalu berharap, anaknya
-Amelia- bisa kembali lagi kepangkuannya.
Ratih mulai menyadari suatu hal, ternyata uang memang tidak bisa
menggantikan apapun. Apalagi sebuah nyawa -dari darah dagingnya sendiri.
Ia berkali-kali mengutuk kebodohan itu. Kebodohan yang telah membuatnya
menderita kini. Bagaimana setan bisa menutupi akal sehatnya hingga
dengan sadar ia menaruh buah hatinya yang baru saja ia lahirkan ke dalam
kardus dan ditinggalkan di depan sebuah pintu rumah. Tadinya perasaan
bersalah masih menggerayangi hati nurani Ratih tapi akalnya yang telah
dikuasai setan itu mengelak.
“Anak itu hanya menghabiskan uang kita. Anak pun kerjaannya hanya
merepotkan dan menyusahkan saja. Tak ada gunanya.” Begitulah pikiran
Ratih dulu, apalagi sang anak dibuang di depan rumah orangtuanya.
Itu yang membuatnya semakin merasa tak berdosa. Ya, walaupun orangtua
Ratih tidak tahu menahu tentang kelahiran Ratih, setidaknya mereka
tidak mungkin membiarkan cucu mereka menangis kesepian di luar. Ratih
baru memberitahu orangtuanya tepat ketika sang Ibu membuka pintu, ia pun
langsung mengatakan dalam telepon bahwa itu adalah bayinya dan ia
meminta untuk merawatnya hingga besar. Sang Ibu yang sudah berusia
separuh baya itu hanya tersentak kaget. Sambungan telepon itu terputus
sebelum sang Ibu mengatakan apapun. Anak itu memang bukan hasil
pernikahan halal melainkan hasil ketidaksengajaan hubungan gelap Ratih.
Oh lebih tepatnya bukan kesengajaan, tapi itu pekerjaannya. Ya! Melayani
lelaki hidung belang. Saat mengetahui bahwa dirinya hamil, Ratih memang
tidak berpikiran untuk melakukan aborsi, tapi lama kelamaan ia berpikir
mempunyai anak akan sangat menganggu aktivitas serta reputasi
pekerjaannya.
Tapi.. jiwa keibuan yang sejatinya ingin mempunyai seorang anak pun
terpancar dari dalam jiwa Ratih. Ia ingin sekali memeluk dan menciumi
anaknya yang masih harum itu, ia ingin sekali mendengar tangis pertama
buah hatinya ketika melihat dunia, ia ingin sekali membisikkan pada
malaikat kecilnya itu bahwa ialah yang selama sembilan bulan ini
mengandungnya, dan satu hal lagi Ratih ingin anaknya menjadi wanita yang
sukses dan dikenal banyak orang bukan seperti dirinya yang hanya
seorang wanita yang selalu dihina dan dipandang sebelah mata. Air mata
Ratih beriringan membasahi wajahnya yang peluh.
Ratih hampir tidak percaya, di tangannya kini ada seorang bayi mungil
yang sangat cantik, sungguh berbeda dengannya. Senyumnya pun sangat
menawan hingga mampu menghipnotis siapapun yang memandangnya. Ratih pun
langsung memikirkan sebuah nama, tidak perlu waktu lama ia langsung
menemukan, Amelia, ya, nama yang tampaknya sangat cocok untuk malaikat
kecilnya. Air mata Ratih pun menetes lagi, menyadari bahwa ia tak pernah
merasakan bahagia sehebat ini.
—
Malam mulai membentangkan jubah hitamnya, menyisihkan sang raja siang
kembali ke peraduan, menyirnakan degradasi senja yang sarat akan
keteduhan. Sayup-sayup terdengar tiupan angin yang mengusik dedaunan
hingga bergesekkan. Suara binatang malam pun mulai mengaum mencekam.
Malam itu purnama menggelegar benderang hingga tak satupun awan kelabu
yang berani mengganggunya. Berbalik dengan Sirius, yang malah setia
berada di dekatnya. Malam sejatinya mempunyai dua makna yang berlainan
tapi tak dapat terpisahkan layaknya dua sisi mata uang. Sebenarnya Ratih
tak sepenuhnya percaya bahwa malam mempunyai dua makna, yang ia tahu
malam hanya mempunyai satu makna. Makna yang mengingatkannya pada
jeritan nista-nista.
Dunia kelam itu nyatanya lebih kejam dari gulitanya malam. Karena
dunia itu mengharuskannya melakukan nista dengan berharap Tuhan masih
mampu memaafkan dosanya. Ratih sadar jiwanya terus memanggil-manggil
untuk tidak lagi melakukan nista itu. Tapi entah kenapa, banyak
bisikan-bisikan jahat yang hendak menutupi niat baiknya. Ratih pun tak
tahu, ia harus memilih yang mana. Kini, ia sudah memiliki segalanya,
apartemen mewah, BMW sufia hitam, dan segenap tabungannya yang ia yakin
mampu menopang hidupnya selama dua tahun tanpa bekerja sekalipun. Night
club itu seolah sudah menyatu padu dalam jiwanya. Hingga begitu sulit
untuk melepasnya walaupun ia tahu, itu langkah yang baik.
Pikirannya beradu, bimbang, resah, gundah, memikirkan keputusan apa
yang harus diambilnya, sementara itu, kehampaan jiwanya terus mengaduh,
menggoyahkan relung hatinya. Ratih sejatinya hanyalah manusia biasa. Ia
tentu butuh kedamaian hidup yang lebih manusiawi, yang tak dapat ia
temukan ketika ia bekerja di klub malam. Entah mengapa, saat kehampaan
itu mulai menjalar ke dalam jiwanya, ia selalu teringat pada seseorang.
Dan orang itu adalah Amelia, bayi kecilnya yang mungkin sekarang sudah
beranjak besar.
Mengapa dulu ia sama sekali tidak merasa berdosa ketika berusaha
meninggalkan bayinya sendirian di tengah malam. Mengapa dirinya begitu
tega membiarkannya anaknya yang baru menghirup udara dua hari, terlantar
kesepian. Apakah hatinya terbuat dari batu, sehingga tidak dapat merasa
kasihan. Ratih yakin, jika setiap orang mempunyai julukan, pasti
dirinya sudah dijuluki manusia si keji dan si hina. Sebenarnya hampir
tak ada perbedaan dari kedua kata itu, tapi menurutnya satu kata tak
mampu melukiskan dosa yang selama ini ia perbuat. Mungkin memang
memerlukan dua kata, tapi mempunyai satu inti. Yaitu, manusia yang tak
pantas hidup atau mungkin pel*cur dan pembuang bayi.
Ratih tertunduk pasrah. Ia pasrah terhadap kelanjutan liku hidupnya
yang entah bagaimana. Ia pasrah terhadap takdir Tuhan yang telah
tertulis untuknya. Ia pasrah. Ya! Memang seharusnya begitu. Manusia
tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Tuhanlah yang maha mengatur, menentukan
nasib, dan jalan takdir semua makhluk-makhlukNya. Bahkan daun yang jatuh
ke sungai pun itu adalah takdirNya. Hanya dengan berserah diri
pada-Nya, kita bisa menjalankan hidup ini tanpa beban. Ratih kembali
mengusap air matanya yang berjatuhan. Ia mulai merenungi akan
dosa-dosanya, yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Hati kecilnya
bertanya, mungkinkah Tuhan akan memaafkan dosanya. Ia menggeleng
perlahan.
Wanita itu mendengar suara yang bergemerisik. “Suara itu…” Ratih
terasa sangat mengenali suara itu. Seketika telinganya langsung terasa
teduh ketika mendengar suara itu. Ternyata itu suara, Adzan. Sungguh ia
sangat rindu panggilan adzan itu. “Kemanakah diriku selama ini. Sampai
suara Adzan pun hampir tak ku kenali.” gumamnya.
Ratih memang hampir lupa identitas keislamannya, sejak mengenal dunia
kelam itu. Selama ini ia memerlakukan Tuhan sebagai sasaran
kesalahannya, seperti Amelia tidak bersamanya itu semua karena takdir
Tuhan, pikirnya. Ajaran ibadah yang sejak kecil ditanamkan dalam dirinya
seakan sirna begitu saja. Ratih bahkan lupa kapan terakhir ia salat dan
kapan terakhir ia mengucap syukur pada Tuhan.
Oh manusia sepantasnya tidak begitu. Ratih kembali menangis tersedu,
namun kini ia menangis dalam khusyuknya sujud yang tu’maninah. Air
matanya bergelimpangan saat ia mulai mengangkat kedua tangannya seraya
berkata, “Ya Tuhan, hamba hanyalah makhluk-Mu yang hina. Yang tak
terhitung berapa banyak dosa yang telah hamba lakukan. Jikalau Engkau
sudi, maafkanlah dosa hamba. Namun jika tidak, hamba akan mempersiapkan
diri untuk menelan api neraka yang telah Kau janjikan itu. Tapi sebelum
itu, hamba ingin Kau kembalikan Amelia ke sisiku lagi. Izinkanlah di
sisa umurku ini aku bisa hidup bahagia bersama Amelia. Dan izinkan hamba
untuk menebus segala dosa-dosa yang telah hamba lakukan padaMu, pada
Amelia dan pada orangtua hamba. Mohon kabulkanlah rintihan doa hambaMu
yang lemah ini ya Robb. Aamiin.”
—
Pagi kembali datang menyongsong, dihias pesona fajar yang mampu
menghipnotis siapa saja yang memandangnya. Proses terbitnya mentari yang
indah ini merupakan salah satu keajaiban yang sangat luar biasa dari
Dzat pencipta keindahan, Allah azza wa jala. Dari langit yang hitam
perlahan menjadi biru tua, lalu biru agak tua, berubah jadi biru sedang
bercampur oranye tua hingga menjadi biru cerah dengan kuning keemasan.
Kini malam telah sirna meninggalkan jejak-jejak gelapnya. Lembaran pagi
yang masih suci terlahir kembali. Lembaran itu benar-benar masih kosong,
bersih dan putih. Alangkah baik jika kita menghias lembaran kosong itu
dengan cantik dan penuh warna.
Itu juga yang dipikirkan Ratih. Ia janji akan membuat lembaran hari
baru ini menjadi lembaran yang cantik dan indah. Kini, keputusannya
telah bulat untuk berhenti bekerja di klub malam itu. Ratih mulai menata
hidupnya kembali. Hari ini, ia sangat bahagia, karena hari ini Ratih
akan berkunjung ke rumah orangtuanya. Ia akan bertemu Amelia. Kemarin ia
sudah menelepon Ibunya untuk menanyakan keadaan anaknya itu, sambil
menyampaikan permintaan maaf. Kebetulan, hari ini Amelia baru pulang
dari studytour-nya, setelah dua hari menginap. Hati Ratih sangat
berbunga. Bahkan ia telah mempersiapkan kamar yang sudah dihias dengan
bunga-bunga untuk anaknya itu. Rencananya Ratih akan mengajak Amelia
beserta Ayah dan Ibunya untuk tinggal di apartementnya ini. Ia akan
benar-benar memulai hidup baru.
Sejurus kemudian Ratih telah sampai di rumah orangtuanya. Ia langsung
berhambur ke pelukan Ibu dan Ayahnya. Rasanya telah lama sekali
tubuhnya tidak merasakan pelukan sehangat dan sedamai ini. Ia pun
kembali menyampaikan permintaan maaf atas kedurhakaannya selama ini.
Sebesar apapun dosa sang anak pasti hati orangtua selalu terbuka untuk
memaafkan. Terkadang Ratih pun merasa malu pada dirinya sendiri, sebagai
anak ia merasa sudah melakukan dosa yang sangat besar pada orangtuanya
sampai-sampai ia tidak percaya bahwa dosanya yang begitu besar itu
dengan sekejap langsung termaafkan.
Ratih pun langsung menanyakan keberadaan Amelia pada sang Ibu setelah
beberapa saat ia tak melihat tanda-tanda kehadiran anaknya. Dengan muka
yang agak kecewa sang Ibu pun menjelaskan dengan sangat hati-hati, “Ibu
nggak tahu nduk, Amelia belum pulang juga. Padahal jadwalnya jam 8 tadi
ia sudah sampai. Ibu sudah mencoba menelpon wali muridnya, tapi
handphone-nya nggak aktif. Ibu juga sudah menelepon guru pembimbingnya,
tapi handphone-nya juga gak aktif. Kebetulan pihak sekolah menelepon Ibu
untuk tetap sabar menunggu. Kemungkinan bus yang ditumpangi Amelia
terjebak kemacetan panjang..”
Air muka Ratih seketika langsung kacau balau. Beberapa kemungkinan
buruk langsung berkelebat di pikirannya. Hati kecilnya bertanya-tanya,
naluri keibuannya coba untuk merasakan putri kecilnya. Tapi entah
mengapa, hanya perasaan buruk yang menggerayangi hatinya. Ratih pun
sangat takut jika putrinya terluka di luar sana.
“Jangan khawatir anakku, tadi pihak sekolah juga menjanjikan jika sampai
sore nanti bus rombongan Amelia belum juga tiba, mereka akan melakukan
pencarian. Jadi…”
Suara telepon berdering.
“Sebentar ya nak.” sambung sang Ibu lalu mengangkat telepon.
Ratih pun tertekuk dengan pikirannya, ia tak menghiraukan kata-kata sang
Ibu lagi, fokusnya hanya satu. Ya! Keberadaan putri kecilnya.
“Ratih…” panggil sang Ibu.
Ratih mengangkat wajahnya menghadap sang Ibu tanpa berkata apapun.
Sepertinya sang Ibu pun paham akan perasaan Ratih, ia masih mencoba
menenangkan anaknya dengan mengatakan semuanya dengan hati-hati. “Mobil
rombongan Amelia ditemukan warga jatuh ke jurang nak. Semua korban
selamat tapi mengalami luka yang sangat parah. Tadi Ibu ditelepon pihak
sekolah, kita harus ke rumah sakit sekarang.”
Ratih pun tak bisa berkata apa-apa lagi, mulutnya membungkam rapat,
napasnya tertahan di tenggorokan, satu lagi kenyataan pahit yang harus
ia telan.
Rumah sakit yang besar ini ternyata sudah penuh sesak dengan petugas
maupun sanak keluarga dari korban bus rombongan yang terjatuh di jurang
itu. Tak ada tawa yang terlihat di sini, hanya isak tangis, suara
rintihan serta wajah tabah yang mengiringi setiap tancapan infus dan
lilitan perban. Bau obat-obatan yang menyeruak pun membaur bersama derap
kaki yang hilir mudik ke mari. Begitupun dengan Ratih dan sang Ibunda,
satu persatu perawat ditanyai tentang keberadaan Amelia.
Tapi semua perawat yang ditanyainya tak satupun yang tahu, mereka
hanya menggeleng lalu meninggalkan pergi. Terpaksa Ratih pun harus
memeriksa satu persatu kamar rawat yang ada di rumah sakit itu.
Kebetulan sang Ibunda menemui guru pembimbing Amelia, ia pun menanyai
keberadaan cucunya. Dengan wajah sangat menyesal sang guru pun
memberitahu keadaan buruk yang telah menimpa Amelia. Tampaknya Ratih pun
telah siap dengan semua kenyataan yang akan diterimanya, walaupun
ternyata kenyataan itu terlalu pahit baginya.
Ternyata tak butuh waktu lama untuk menemui kamar putri kecilnya.
Ratih langsung berhambur memeluk putrinya yang terbebat banyak perban
itu. Amelia langsung tersenyum ia pun mengeratkan pelukannya. “Nenek…”
“Amelia kamu nggak apa-apa sayang?” sambar Ratih sambil menggenggam tangan putrinya.
“Kamu siapa? Nenek mana? Kamu bukan Nenek..”
Dengan berat hati Ratih pun melepaskan tangannya dari Amelia, mungkin
sekarang bukan waktu yang tepat baginya untuk memberitahu Amelia bahwa
ia adalah Ibu kandungnya. Hati Amelia pasti akan sulit menerimanya
ditambah keadaannya yang telah berbeda sekarang.
“Nenek di sini sayang. Kamu jangan takut..” Sambut sang Nenek sambil mencium kening cucunya.
Sekilas senyum terbentang di bibir mungil Amelia, ia pun mengenggam tangan sang Nenek erat.
“Nek, mata Lia kenapa gak bisa kebuka. Lia kenapa nek. Kenapa badan
Lia semuanya sakit. Lia di mana? Lia gak bisa lihat nek, mata Lia juga
sakit.”
“Tenang ya sayang, kamu jangan banyak gerak nanti badan kamu tambah
sakit. Lebih baik kamu sekarang tidur, besok kalau badan kamu udah
enakan, Nenek akan jelasin semuanya ke kamu..”
“Tapi Nenek jangan kemana-mana ya, jangan ninggalin aku.” tambah Amelia.
“Nenek janji sayang..” Setelah mengecup kening Amelia, sang cucu pun langsung terlelap dengan mengenggam sebelah tangannya.
Ratih memerhatikannya dengan seksama, ia bahagia putrinya itu
ternyata mempunyai Nenek yang sangat menyayanginya. Hati kecilnya pun
bertanya, masih butuhkan Amelia dengan Ibu yang selama ini sudah
menelantarkannya. Ditambah sekarang keadaan Amelia yang kehilangan
penglihatannya akibat terbentur pecahan kaca mobil yang mengenai kedua
matanya. Perasaannya kembali berkecamuk, terkadang ia merintih pada
Tuhannya, “Ya Robb, mengapa engkau timpa aku dengan suatu masalah lagi,
padahal kebahagiaan baru saja datang menghampiri.”
—
Langit yang gelap perlahan membiru seiring mencairnya embun yang
bergelayut di ujung dedaunan. Pagi ini Ratih terbangun dan menjawab
sahut-sahut suara adzan yang menggetarkan kalbunya. Sekilas ia melihat
Amelia yang masih tertidur pulas bersama Ibundanya. Untuk sesaat ia
memandangi wajah Amelia yang masih sangat bersih itu, walaupun beberapa
perban melilit wajah putri kecilnya, tapi itu tidak menghilangkan
kecantikan yang terpancar. Oh, ia pun seperti melihat bayangan dirinya
di wajah Amelia. Ternyata anaknya sangat mewarisi karateristiknya. Ratih
tersenyum simpul, tampaknya kini ia tahu apa yang harus dilakukannya
sekarang.
Keajaiban air wudu ternyata memang benar adanya. Buktinya walaupun
Ratih hanya membasuh sebagian tubuhnya tapi kesegaran itu merambat
hingga ke seluruh tubuhnya bahkan hingga ke dalam pikiran dan hatinya.
Dengan penuh khusyuk Ratih memulai takbiratul ikhram dengan perlahan
dilanjutkan ruku, sujud, dan kemudian diakhiri dengan salam. Dalam
doanya Ratih kembali merintih dan memohon kesembuhan atas putri
kecilnya. Selesai salat langsung bangkit dan mencium kening anaknya
sambil membisikkan, “Ibu mencintaimu nak.”
Dengan langkah mantap Ratih berjalan ke ruangan dokter yang menangani
Amelia. Tanpa basa-basi Ratih langsung menanyakan detail tentang
kondisi putrinya.
“Tidak ada masalah yang cukup serius dengan putri anda. Hanya memar
ringan di bagian lutut, tangan serta pelipisnya. Kalau untuk mata, saya
harus mengatakan sejujurnya. Mata putri anda terkena pecahan yang
menusuk cukup dalam hingga mengenai retina matanya. Bola mata itu pun
rusak parah, dan tidak bisa diselamatkan. Bisa kami simpulkan Amelia
akan mengalami buta permanen. Anda tidak perlu khawatir, kami pun telah
memasukkan nama putri anda sebagai pencari donor mata. Namun memang itu
membutuhkan waktu yang lama, kiranya anda harus bersabar..”
Ratih berpikir sejenak, ia tak mungkin tega membiarkan putrinya
berlama-lama menanti donoran mata. Amelia pasti akan depresi dan sedih
berkepanjangan. Bukankah tujuannya menemui anaknya itu untuk mencari
kebahagiaan. Mana mungkin ia akan bahagia jika anaknya tidak bahagia.
Dan bagaimana bisa Amelia mempercayainya sebagai Ibu yang telah
melahirkannya, sedangkan Amelia sendiri tak dapat melihat wujud dirinya.
Akhirnya Ratih pun menyimpulkan suatu keputusan bulat. Ya! Ia sendiri
yang akan mendonorkan matanya.
Operasi pemindahan retina mata itu langsung terjadi siang itu juga.
Ratih sendiri yang memintanya begitu. Ia tak mau menunda-nunda, karena
semakin ditunda itu akan membuat putri kecilnya semakin sedih. Sebelum
menjalankan operasi, Ratih menyampaikan diri untuk melihat kembali wajah
putrinya yang masih tertidur pulas. Ia pun menitikkan air mata,
menyadari ini adalah saat terakhir kalinya ia dapat memandangi wajah
putri kecilnya yang sudah delapan tahun tidak ditemuinya. Walaupun hanya
sesingkat ini, Ratih yakin ia akan mampu mengingat wajah putrinya walau
nanti ia tidak bisa melihatnya lagi. Karena wajah itu bukan tersimpan
di memori otaknya yang seiring waktu bisa saja hilang, melainkan ia
menyimpannya di hati, yang akan abadi dan tak mampu lekang oleh waktu.
Sang Ibu yang baru mendengar kabar pendonoran mata Ratih, langsung
mencari-cari anak sulungnya itu dengan hati cemas. Ternyata Ratih sedang
duduk dekat ruang operasi bahkan telah berganti dengan pakaian operasi.
“Nduk Ibu cari kemana-mana ternyata kamu di sini. Kamu ngapain Nduk pake baju ini?” tanya sang Ibu.
Ratih langsung bangkit dan memeluk Ibunya erat sambil menitikkan
beberapa air mata yang dengan kilat langsung diusapnya. “Bu, doain Ratih
ya, Ratih mau mendonorkan mata buat Amelia biar Lia bisa melihat lagi
bu..”
Sang Ibu pun tak bisa menyembunyikan lagi air matanya yang ingin ke
luar. “Kenapa harus kamu Nduk? Kita kan bisa nunggu pendonor mata yang
lain..”
“Tapi itu pasti lama bu, Ratih nggak mau Lia nunggu terlalu lama. Mata
Ratih ini sudah terlalu banyak berbuat dosa bu, sekarang saatnya untuk
mata Ratih ini menghapus dosa-dosanya. Lagi pula orang yang akan
menerima mata Ratih ini, anak Ratih sendiri bu. Jadi Ratih sama sekali
nggak ragu..”
“Baiklah kalau begitu yang kamu mau. Tapi Ibu tetep nggak tega kalau
kamu yang harus mengorbankan matamu Nduk..” jawab sang Ibu masih
tersedu.
Ratih mengusap air mata yang mengaliri pipi Ibundanya. “Ibu harus
yakin, ini demi kebaikan Amelia. Dia yang lebih membutuhkan sepasang
mata, daripada Ratih. Lia masih harus bermain dan tertawa seperti
teman-temannya yang lain yang masih mampu melihat indahnya dunia..”
“Tapi gimana dengan kamu Nduk? Kamu pun juga membutuhkan itu..”
“Nggak bu, Ratih nggak butuh apa-apa. Yang Ratih butuhkan itu cuma
senyum dan tawa Amelia. Kalau Lia bahagia, Ratih pun bahagia..” jawab
Ratih mantap.
Tak lama, seorang perawat pun datang menghampiri Ratih dan memintanya
untuk segera masuk ruang operasi, karena operasi itu akan segera
dimulai.
“Bu doain Ratih ya, semoga operasinya berjalan lancar..” ucap Ratih
sambil mencium tangan Ibundanya dengan penuh rasa hormat dan cinta.
Operasi itu telah selesai setelah berjalan dua jam lamanya. Amelia dan
Ratih ditempatkan di ruang rawat yang berbeda. Sang Ibu langsung
menghampiri anak dan cucunya bergantian, dalam hatinya ia terus
melafalkan doa agar anak dan cucunya bisa cepat pulih kembali.
—
Tak terasa senja kembali membias bersama jingganya langit di ufuk
barat. Ratih hampir tak percaya, inilah senja pertama yang dilewatinya
tanpa sepasang mata. Ya, memang agak berbeda, tapi ia masih mampu
merasakan desiran angin yang membelai wajahnya lembut. Ratih bergumam,
“Walaupun senja kini tak dapat ku pandangi, tapi aku bahagia masih mampu
merasakan kedamaian dan keteduhannya. Sungguh ini tak jauh berbeda.
Terima kasih ya Robb, kau memang maha adil, kehilangan penglihatan
ternyata bukan berarti kehilangan segalanya..”
Suara ketukan pintu.
“Ibu…”
“Iya ini Ibu Nduk. Kamu sudah siuman ternyata.” ucap Ibu sambil membelai rambut anaknya yang tergerai panjang.
“Iya bu. Amelia gimana, dia sudah siuman atau belum?” balas Ratih.
“Alhamdulillah sudah, Ibu barusan menyuapinya. Kamu mau makan Nduk?”
“Nanti saja bu, Ratih masih kenyang. Ibu saja dulu yang makan, Ibu pasti belum makan.”
“Ibu sudah makan kok Nduk. Ya sudah kalau ada apa-apa panggil Ibu aja
ya Nduk, atau kamu tekan belnya. Ini, bel-nya ada di samping tangan
kananmu ya. Ibu mau ke kamar Lia lagi.” ucap sang Ibu lalu mengecup
kening anaknya lalu membisikkan, “Ibu mencintaimu Nduk.”
Setelah pintu terdengar ditutup, Ratih menitikkan air mata. “Kenapa aku
baru sadar bahwa selama ini aku mempunyai Ibu yang sangat perhatian dan
sayang padaku. Kenapa baru sekarang…” lirihnya sambil terus mengusap
butiran bening yang membanjiri pelipis matanya.
Pagi ini benar-benar membahagiakan untuk Ratih, karena hari ini
Amelia sudah diperbolehkan pulang. Ia mencoba membayangkan senyum di
wajah putrinya sambil bergumam, “Pasti ia akan tersenyum seperti itu..”
Walau di luar langit meradang dan rintik hujan mulai turun perlahan,
rasa bahagia itu tak luput dari hati Ratih. Ia malah berpikiran, hujan
ikut mengamini kebahagiannya saat ini.
“Nenek, hari ini aku boleh pulang kan?” ucap Amelia semangat.
Sang Nenek menghampiri cucunya dan membelai wajahnya dengan lembut, “Iya sayang, mulai hari ini Lia boleh tidur di rumah..”
“Yes. Horee. Lia udah bosen nek tidur di sini, kasurnya sempit, nggak ada mainan dan nggak ada temen..”
“Iya, tapi kalau udah pulang Lia jangan banyak main dulu ya, luka Lia belum sembuh benar.”
“Siap nek.” balas sang cucu sambil merekahkan senyum lebar di antara katup bibirnya.
“Oh iya, Lia pakai jaketnya ya, kayaknya di luar gerimis..” Sang Nenek
memasangkan jaket di tubuh cucunya lalu kembali membelai rambut cucunya
yang tergerai sebahu.
Ratih yang mendengarkan percakapan itu betul-betul merasa bahagia. Ini
adalah kali pertamanya ia mendengar suara putrinya yang begitu
bergembira. Andai ia juga mampu melihat raut wajah gembiranya Amelia,
mungkin dunia dan seisinya pun tak akan sebanding dengan itu. Sekali
lagi Ratih harus meneguk kepahitan dan berlirih pelan. “Itu tak mungkin
terjadi.”
—
Semilir angin mulai menghembus perlahan. Menggeretak bebatuan hingga
memecah keheningan di sela katup bunga yang hampir mekar. Dedaunan pun
ikut bergoyang seolah menikmati irama yang didendangkan oleh angin. Sang
raja siang mulai beranjak menuju tahtanya, sinar keemasan pun mulai
berlomba menyelinap di balik sela-sela sempit, menembus air, dan
menggelayut di tulang dedaunan. Semuanya bertasbih, memuji keagungan
sesuai dengan titah Tuhan-nya.
Rumah sederhana berpagar tanaman itu kini tampak lebih ramai dari
biasanya. Ya, karena sudah dua minggu ini rumah itu bertambah satu
penghuni yang mungkin akan tinggal menetap di sana. Kini. Di balai depan
rumah itu terlihat seorang wanita muda sedang bercengkerama dengan
seorang gadis kecil yang asyik memainkan boneka barbienya. Terkadang
wanita itu tak sengaja menjatuhkan mainan yang dipasang sang gadis
kecil, tapi gadis itu tetap tersenyum dan seakan mengerti keadaan wanita
muda yang selalu berpegangan pada tongkat kayu.
“Maaf ya Lia, pasti mainanmu kesenggol Tante lagi.” ucap Ratih sambil meraba-raba mainan yang tadi disenggolnya.
“Udah nggak apa-apa Tante. Biar Lia yang ambil.” balas Amelia dan meraih mainannya yang jatuh ke lantai.
Ratih tersenyum mendengar jawaban putri kecilnya itu. Ternyata putrinya
memiliki hati yang sangat lembut, yang berbanding terbalik dengan
dirinya. Kalau begini, ia ingin cepat-cepat memberitahu Amelia bahwa ia
adalah Ibu kandung yang sebenarnya, tapi.. entah bagaimana cara
mengucapkan itu semua.
“Lia.. Apa Lia tahu sekarang Ibu Lia di mana?”
“Nggak. Dari kecil, Lia cuma punya Nenek, Kakek dan Mas Imam. Kata
Nenek, Ibu Lia lagi kerja yang jauuuh di sana sama seperti Ayah Lia yang
juga lagi kerja jauh.”
Ratih tersentak mendengar kata Ayah dari mulut anaknya. Ia benar-benar
tak sempat berpikir, bagaimana jika ia memperkenalkan diri sebagai
Ibunya, lalu Amelia bertanya padanya tentang keberadaan Ayah anak itu.
Bagaimana mungkin ia bisa menjawab. Bahkan sampai sekarang pun, ia tidak
tahu lelaki mana yang telah menghamilinya. Ratih berpikir keras, tapi
ia memilih mengabaikan itu.
“Tapi kalau ternyata Ibu Lia sudah kembali, apa Lia mau memeluknya?”
“Pasti. Lia udah kangen banget sama Ibu. Lia nggak akan ngelepas Ibu
lagi buat kerja. Lia akan minta Ibu buat nemenin Lia tidur. Lia akan
nunjukin semua hasil ulangan Lia selama ini, dan minta Ibu buat ngambil
rapor Lia nanti”
“Dan kalau Ibu Lia ada di hadapan Lia sekarang, apa yang mau Lia katakan pada Ibumu nak?” tanya Ratih dengan penuh harap.
Gadis kecil itu sedikit mendongak menghadap wajah Ratih lalu kembali
merunduk sambil mengatakan “Ibu.. Lia kangeen banget sama Ibu. Walaupun
Lia belum pernah lihat wajah Ibu, tapi Lia sayaaang sama Ibu. Lia janji,
Lia nggak akan jadi anak yang nakal lagi. Tapi Ibu juga harus janji,
nggak akan tinggalin Lia lagi”
Mata Ratih seketika langsung basah tergenang air mata. Dirinya
terguncang kuat, kakinya bergemetar, ia pun mencoba menggapai-gapai
tubuh putrinya dengan kedua tangannya. “Kemari nak, ini Ibumu. Peluk
Ibumu seperti yang kau bilang nak.”
Amelia menoleh, mendapati Ratih yang sedang tersedu. “Tan..te.. ini Ibuku?”
Ratih mengangguk lalu Ibu dan anak itupun berpelukan erat seakan tak ingin lepas.
“Maafkan Ibu ya nak, Ibu sudah menelantarkanmu selama ini. Seharusnya
Ibu lebih cepat pulang dan memelukmu seperti ini. Apa Lia mau memaafkan
Ibu?”
“Lia mau bu. Tapi apa Ibu janji nggak akan pergi lagi?”
“Iya sayang.” Ratih mencium kening anaknya dengan penuh cinta.
Air matanya terus mengalir deras. Selama delapan tahun ini, ia baru
merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Walau kedua matanya kini
sudah tidak dapat melihat indahnya dunia lagi, tapi ia yang akan
membiarkan dunia melihat keindahan kasih cintanya bersama putri kecilnya
-Amelia.
“Ibu ingin dengar kata-kata yang kau ucap tadi nak, jika Ibumu sudah ada di hadapanmu”
Lia berbalas mencium kening Ratih lalu membisikkan ke telinganya. “Lia mencintai Ibu.”
Selesai